18.1 C
Munich

Perhitungan Telah Dilakukan, Prabowo Menegaskan Kemampuannya untuk Mengatasi Kemiskinan di Indonesia

Harus dibaca

Prabowo-Gibran Tawarkan Ekonomi Pancasila, Klaim Punya Hitungan untuk Atasi Kemiskinan

Pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menempatkan isu ekonomi dan pengentasan kemiskinan sebagai bagian penting dari visi politik mereka. Sebagai pasangan terakhir yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), keduanya membawa dokumen visi-misi dan delapan misi Asta Cita yang menjadi pijakan kampanye.

Ekonomi Pancasila Jadi Dasar

Dalam draf visi-misi yang mereka ajukan, Prabowo-Gibran menonjolkan prinsip ekonomi Pancasila. Konsep itu disebut mengambil sisi terbaik dari kapitalisme dan sosialisme: memberi ruang seluas-luasnya bagi inovasi dan kebebasan pasar, tetapi tetap mewajibkan negara hadir lewat jaring pengaman sosial bagi kelompok yang paling lemah.

“Paham ekonomi yang membuka lebar kesempatan berinovasi dengan kebebasan pasar, tetapi juga memperhatikan dan menjamin jaring pengaman sosial (social safety net) untuk masyarakat yang paling lemah,” demikian kutipan dalam draf visi-misi Prabowo-Gibran.

Menuju Indonesia Emas 2045

Di bagian lain, mereka merumuskan visi dengan kalimat “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”. Dalam dokumen itu, kata “bersama” dimaknai sebagai ajakan bagi putra-putri terbaik bangsa dari berbagai latar belakang untuk bekerja dengan tujuan yang sama. Sementara itu, “Indonesia maju” disebut bertumpu pada fondasi yang dibangun pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Adapun kata “menuju” dipakai untuk menegaskan arah yang hendak dicapai, yakni Indonesia Emas, sebuah negara yang setara dengan negara maju pada 2045 atau bahkan lebih cepat.

Hitungan Politik di Balik Janji

Rangkaian visi itu menunjukkan bahwa Prabowo-Gibran mencoba menempatkan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan sosial dalam satu tarikan. Di tengah persaingan menuju Pemilu 2024, narasi ini sekaligus menjadi cara mereka menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya dengan pertumbuhan, melainkan juga dengan desain kebijakan yang memberi ruang bagi kelompok rentan untuk ikut naik kelas.

Berita Terbaru