18.1 C
Munich

Brigjen TNI (Purn.) Aloysius Benedictus Mboi

Harus dibaca

Brigjen TNI (Purn.) Aloysius Benedictus Mboi

Nama Brigjen TNI (Purn.) Aloysius Benedictus Mboi, atau yang akrab disapa Pak Ben Mboi, kembali mengemuka lewat kisah yang dibagikan Prabowo Subianto dalam buku Military Leadership Notes from Experience Chapter I: Exemplary Leaders of The Indonesian Armed Forces. Dari sosok inilah Prabowo mengaku menyerap pelajaran penting tentang kepemimpinan: mencintai rakyat, memakai akal sehat, dan memahami beban orang lain sebelum mengambil keputusan.

Pelajaran tentang memimpin dengan empati

Menurut Prabowo, Pak Ben Mboi menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya tegas atau berani. Ia harus mampu merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, memahami penderitaan mereka, dan mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan. Bagi Prabowo, nasihat itu bukan sekadar petuah singkat, melainkan prinsip yang terus ia bawa dalam perjalanan kariernya.

Prabowo juga menyebut sebuah peribahasa Jawa yang hingga kini ia pegang erat, sebagai penguat cara pandangnya dalam memimpin. Dalam pandangannya, kepemimpinan yang baik selalu bertumpu pada kedekatan dengan rakyat, bukan jarak.

Kisah dari operasi pembebasan Irian Barat

Dalam pertemuan dengan Pak Ben Mboi, Prabowo juga mendengar langsung cerita-cerita tentang heroisme dan kepemimpinan pada masa kampanye pembebasan Irian Barat. Salah satu kisah yang ia ingat ialah saat Pak Harto, yang kemudian dikenal sebagai Presiden Suharto, menyampaikan kepada pasukan bahwa peluang selamat hanya 50 persen sebelum menjalankan misi berisiko tinggi.

Meski menghadapi kemungkinan yang besar untuk gagal, pasukan tetap berangkat dengan disiplin dan keberanian. Bagi Prabowo, kisah itu memperlihatkan bahwa keberanian dalam militer tidak lahir dari kepastian, melainkan dari kesanggupan menjalankan tugas meski risiko begitu besar.

Warisan pengabdian yang tidak berhenti di jabatan

Prabowo juga menuturkan kisah lain tentang Pak Ben Mboi yang pensiun tanpa rumah. Dalam cerita itu, para bawahan dan stafnya bergotong royong mengumpulkan dana untuk membangunkan sebuah rumah sebagai bentuk terima kasih atas pengabdian panjangnya. Kisah ini, menurut Prabowo, menunjukkan bahwa ada pemimpin yang mengabdi tanpa mengejar keuntungan pribadi.

Dari rangkaian cerita tersebut, Prabowo kembali menegaskan bahwa kepemimpinan bukan semata urusan komando. Yang lebih penting adalah kemampuan mencintai orang yang dipimpin, memahami kesulitan mereka, dan tetap berpijak pada akal sehat ketika menghadapi tantangan. Bagi Prabowo, itulah warisan nilai yang ia terima dari Pak Ben Mboi dan terus membentuk cara pandangnya hingga kini.

Source link

Berita Terbaru