18.1 C
Munich

Airlangga Menjawab Komentar Sindiran Megawati: Era Orde Baru Telah Berlalu, Kita Kini dalam Era Reformasi

Harus dibaca

Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, merespons sindiran Ketua PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut pemerintahan saat ini menyerupai rezim Orde Baru. TKN menilai pernyataan itu lebih mencerminkan kegelisahan politik ketimbang gambaran yang sesuai dengan kondisi pemerintahan sekarang.

Menurut TKN, Jokowi Tak Menjadi “Petugas Partai”

Sekretaris TKN Nusron Wahid mengatakan, komentar Megawati dapat dipahami sebagai ekspresi kekecewaan dari partai pengusung yang sejak awal berharap Presiden Joko Widodo tetap berada dalam kendali politik partai. Namun, menurut dia, Jokowi justru memilih berdiri sebagai kepala negara yang bekerja untuk publik.

“Statement yang disampaikan Bu Mega itu adalah statement kegelisahan sebagai orang tua, kegelisahan sebagai partai pengusung yang kebetulan sebetulnya berharap supaya Pak Jokowi itu dijadikan alat partai politik dan petugas partai politik tertentu. Tetapi Pak Jokowi lebih memilih menjadi petugas negara dan petugas rakyat daripada menjadi petugas partai politik,” ujar Nusron di Media Center Prabowo-Gibran, Jakarta Selatan, Selasa (28/11/2023).

Nusron Sebut Tak Ada Ciri Sentralisasi Kekuasaan

Nusron menegaskan, pemerintahan selama 10 tahun terakhir justru dibentuk melalui koalisi yang melibatkan banyak partai politik. Karena itu, ia menolak anggapan bahwa situasi hari ini menyerupai Orde Baru, yang identik dengan sentralisasi kekuasaan pada satu kekuatan politik.

Ia mencontohkan komposisi kabinet yang menurutnya menunjukkan kekuasaan tersebar ke berbagai partai. “Kekuasaan ini terdesentralisasi ke berbagai partai. Menko Perekonomian dari Golkar, kemudian Menteri Aparatur Negara itu dari PDIP,” ucapnya.

Era Reformasi, Bukan Orde Baru

Lebih jauh, Nusron menyatakan bahwa ciri utama Orde Baru adalah dominasi satu partai atas seluruh pusat kekuasaan. Dalam pandangannya, tanda semacam itu tidak tampak dalam pemerintahan saat ini.

“Jadi kalau kemudian pemerintahan hari ini dikatakan orde baru, ciri-ciri orde baru adalah sentralisasi kekuasaan di tangan satu partai. Hari ini tidak ada sentralisasi kekuasaan di tangan satu partai,” sambung Nusron.

Dengan pernyataan itu, TKN berupaya menepis tudingan bahwa situasi politik sekarang kembali ke pola lama. Di sisi lain, silang komentar antara Megawati dan kubu Prabowo-Gibran kembali memperlihatkan suhu politik yang menjelang pemilihan presiden kian mengeras, terutama saat warisan politik Jokowi ikut diperebutkan maknanya oleh para elite partai.

Berita Terbaru