15.5 C
Munich

Anies Baswedan Mewujudkan Kesetaraan Hak Umat Beragama di Jakarta

Harus dibaca

Anies Baswedan Soroti Kebebasan Berpendapat dan Rasa Takut dalam Berdialog

Bandung, Jawa Barat — Anies Baswedan kembali menyinggung soal kebebasan berpendapat saat menghadiri acara Desak Anies di Bandung, Jawa Barat, pada 29 November 2023. Dalam forum itu, capres yang diusung Nasdem, PKB, dan PKS tersebut menekankan pentingnya ruang bicara yang terbuka tanpa tekanan rasa takut.

“Negara merdeka tidak boleh ada rasa takut”

Anies menilai, dalam negara yang merdeka, warga semestinya bisa menyampaikan pandangan, berdialog, dan berdiskusi tanpa khawatir terhadap konsekuensi yang membuat mereka memilih diam. Ia menyebut, kehadirannya dalam forum semacam itu memang untuk bertemu langsung dengan publik dan membuka percakapan yang setara.

“Jika dalam bahasa Gus Imin, ‘Tidak berbahaya, kan?’. Saya melihat kebebasan berpendapat, kebebasan berdialog harus dijaga. Mengapa saya mau datang acara seperti ini? Karena saya ingin berdialog, ingin berdiskusi dan jangan sampai ada rasa takut untuk mengungkapkan pendapat di negara ini. Ini negara merdeka yang tidak boleh ada rasa takut,” kata Anies Baswedan.

Kritik jangan dibungkus istilah

Menurut Anies, sejumlah aturan yang berlaku saat ini justru membuat masyarakat ragu menyampaikan kritik kepada pemerintah. Kondisi itu, lanjut dia, ikut mendorong orang menyampaikan kritik dengan bahasa yang berputar-putar atau memakai istilah tertentu agar tidak menimbulkan persoalan.

Ia menilai, situasi seperti itu tidak sehat bagi iklim demokrasi. Karena itu, kata Anies, aturan-aturan yang memunculkan rasa takut seharusnya dihapus agar masyarakat bisa berbicara lebih lugas. “Menurut saya itu harus hilang, dan menurut saya kita harus kembalikan aturan-aturan yang membuat orang punya rasa takut harus hilang,” ujar dia.

Kritik, kata Anies, ya kritik

Anies juga menyoroti cara pandang terhadap kritik. Menurut dia, kritik tidak perlu diberi label tambahan seperti “membangun” karena pada dasarnya kritik adalah kritik. Baginya, yang terpenting adalah keterbukaan untuk menerima suara berbeda secara jujur.

“Jangan sampai ada rasa takut untuk mengungkapkan dan tidak boleh kita bilang kritik yang membangun, karena kritik ya kritik saja, membangun ya membangun saja, tidak apa-apa,” ucap Anies.

“Kritik-kritik saja karena urusan membangun yang dikritik, yang mengkritik kan tugasnya mengamati,” pungkasnya.

Berita Terbaru