Jelang Pemilu 2024, Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memilih merespons serangan dan fitnah dengan cara yang tak biasa. Alih-alih meladeni caci maki yang terus mengarah ke pasangan calon itu, TKN justru mengajak relawan untuk tetap tenang, bahkan menanggapinya dengan senyum dan jogetan.
Imbauan agar relawan tak terpancing
Pesan itu disampaikan anggota TKN Prabowo-Gibran, Nusron Wahid, dalam acara Deklarasi Relawan Nderek Guru (Ndaru) di Jakarta Selatan, Minggu (17/12/2023). Ia meminta para pendukung tidak mudah tersulut oleh berbagai tuduhan yang menurutnya akan makin ramai seiring mendekati hari pemungutan suara.
“Kurang 2 bulan Pemilunya pasti makin hari makin banyak fitnah kepada kandidat kita yaitu Pak Prabowo. Itu biasa. Sekali lagi kalau ada fitnah, jangan ditanggapi dulu diam, kita jogetin. Fitnah bagi pemimpin itu biasa,” kata Nusron.
Mengutip pandangan ulama tentang pemimpin
Nusron mengaitkan sikap itu dengan ajaran Habib Luthfie bin Yahya yang merujuk pada pandangan ulama Ibnu Hazm Al Andalusi. Dalam penjelasannya, seorang tokoh publik harus siap menerima hujatan dan cacian sebagai bagian dari konsekuensi ketika maju sebagai pemimpin.
“Kalau anda ingin menjadi pejabat publik maka harus siap-siap menyedekahkan dirinya untuk dicaci maki oleh orang yang tidak suka sampai malam berubah menjadi hari, dan hari menjadi malam akan dicaci terus-menerus,” ujar Nusron.
Balas cacian dengan sikap ringan
Ia juga menilai, cacian kerap justru menjadi penanda seorang kandidat tengah berada di jalur kemenangan. Karena itu, Nusron mengajak relawan untuk tidak membalas dengan emosi, melainkan dengan sikap yang lebih ringan dan tidak konfrontatif.
“Karena itu adalah kata para ulama kalau orang akan menjadi presiden akan menang maka InsyaAllah maka orang itu akan dicaci maki terus-menerus,” ucapnya.
“Saya minta bapak-bapak sekalian ngikutin Habib Luthfi kalau dicaci maki tidak usah dilayani tapi kita hadapi dengan senyuman dan jogetan, setuju?” kata Nusron di hadapan relawan.
