15.5 C
Munich

Analisis Sentimen Positif Tertinggi Terhadap Gibran dalam Debat Cawapres menggunakan Drone Emprit

Harus dibaca

Debat calon wakil presiden tak hanya menyisakan adu gagasan di atas panggung, tetapi juga gelombang percakapan di media sosial yang ikut membentuk persepsi publik. Drone Emprit mencatat, warganet Twitter ramai membahas narasi positif dan negatif terhadap tiga cawapres, dengan Gibran Rakabuming Raka menjadi salah satu yang paling banyak menuai sorotan.

Gibran Disebut Paling Mampu Menguasai Debat

Dalam pantauan Drone Emprit, narasi positif terhadap Gibran banyak berkaitan dengan kesan bahwa ia mampu menguasai debat lewat jawaban yang dinilai lebih realistis, teknis, dan konkret. Cara berbicaranya juga disebut mengejutkan sebagian warganet. Di linimasa, muncul pula frasa let him cook yang menandakan adanya respons positif atas performanya. Selain itu, Gibran dikaitkan dengan fokus pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.

Namun, percakapan negatif juga tidak kalah kuat. Gibran kerap dipersepsikan terus membawa narasi IKN. Di sisi lain, ia dinilai belum menjawab pertanyaan soal rasio pajak dari Mahfud MD serta pertanyaan terkait dana sanitasi dari panelis.

Muhaimin dan Mahfud Tak Lepas dari Sorotan

Untuk Muhaimin Iskandar, atau Cak Imin, narasi positif di Twitter banyak berputar pada diksi “slepet” yang dianggap menarik perhatian, termasuk istilah seperti slepet pengangguran. Ia juga diapresiasi saat menyampaikan target membangun 40 kota selevel Jakarta. Meski begitu, narasi negatif terhadap Cak Imin cukup menonjol. Warganet menilai ia terlalu banyak berbicara, ikut potong tumpeng IKN, tidak paham kepanjangan SGIE, dan terlihat membaca teks.

Sementara itu, Mahfud MD mendapat respons positif karena dinilai tegas, mampu memproyeksikan pertumbuhan 7 persen, berhasil memukul mundur pernyataan Cak Imin, serta memberi penjelasan komprehensif soal hukum. Di sisi lain, Mahfud juga tak luput dari kritik. Warganet menilai ia tidak bisa menjawab pertanyaan Gibran soal UU Carbon Capture Storage, dengan pace yang dianggap terlalu lambat dan jawaban yang cenderung normatif.

Sumber: Ahda Bayhaqi/Merdeka.com

Berita Terbaru