Ganjar Bicara soal Pesantren di Tegal, Dengar Keberatan atas Kebijakan Lima Hari Sekolah
Calon presiden nomor urut tiga, Ganjar Pranowo, menyambangi Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah di Tegal, Jawa Tengah, Kamis (11/1/2024). Kunjungan itu menjadi penegasan sikap Ganjar yang ingin menunjukkan kedekatan dengan pesantren dan santri, di tengah masa kampanye yang kian padat dan sarat simbol politik.
Begitu memasuki kompleks pesantren, Ganjar disambut ribuan santri. Ia juga dikalungkan sorban berwarna hijau sebagai tanda penghormatan. Suasana penyambutan berlangsung hangat, dengan para santri memenuhi area pesantren untuk melihat langsung kedatangan mantan Gubernur Jawa Tengah itu.
Dialog dengan Pengasuh Pesantren
Di hadapan para pengasuh, Ganjar berbincang terbuka dengan KH Muhammad Syafi’i Baidowi, pengasuh Ponpes Ma’hadut Tholabah bagian putra, serta KH Nasihun Isa Mufti, pengasuh bagian putri. Dalam kesempatan itu, Nasihun menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut.
“Kami ucapkan terima kasih, karena mendapat kehormatan dikunjungi oleh capres kita bapak Ganjar Pranowo, Insyallah menjadi Presiden,” tutur Nasihun di Ponpes Ma’hadut Tholabah, Tegal, Jawa Tengah, Kamis (11/1/2024).
Keluhan soal Full Day School
Selain menyerap aspirasi, Ganjar juga menerima masukan terkait kebijakan lima hari sekolah atau full day school. Aturan itu dinilai sebagian pihak perlu dikaji ulang karena dianggap memberatkan wali murid, terutama di lingkungan yang masih mengandalkan madrasah diniyah sore sebagai ruang pendidikan agama dan pembentukan karakter.
Menurut keterangan yang diterima Ganjar, banyak orangtua khawatir anak-anak mereka kehilangan waktu belajar agama bila kegiatan sekolah umum berlangsung hingga sore. “Jadi pendidikan lima hari sekolah sangat memberatkan wali murid karena harus sampai sore, para wali murid ingin anaknya setelah sekolah bisa belajar agama,” jelas dia.
Kunjungan Ganjar ke pesantren ini memperlihatkan bahwa isu pendidikan, khususnya relasi antara sekolah umum dan pendidikan keagamaan, masih menjadi perhatian penting di akar rumput. Di pesantren, persoalan seperti ini tak hanya dilihat sebagai urusan teknis jadwal belajar, tetapi juga menyangkut ruang tumbuh anak dan peran keluarga dalam menjaga tradisi pendidikan agama.
