14.8 C
Munich

Prabowo Membuat Nasi Goreng Enak di Acara Golkar: Momen Masaknya

Harus dibaca

Prabowo Membuat Nasi Goreng Enak di Acara Golkar: Momen Masaknya

Di tengah perbincangan soal makanan sehat yang tetap terjangkau, Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan saat hadir dalam sebuah acara Golkar. Momen itu bukan sekadar soal sajian di meja, melainkan juga cara memotret gagasan besar: menu bergizi tak harus mahal. Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Airlangga, menjelaskan bahwa yang diperlombakan dalam kegiatan tersebut adalah harga dalam satu piring, tetapi tetap dengan standar makanan sehat.

Menu sehat dibatasi harga, bukan kualitas

Airlangga menyebut sejauh ini sudah ada peserta yang mampu menyajikan makanan sehat dengan kisaran harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Menurut dia, angka tersebut menjadi bukti bahwa konsep makan bergizi bisa dijalankan tanpa membebani kantong. “Jadi ini menjadi dasar bahwa menu sehat itu bisa dilakukan dengan ongkos 15 (ribu) ataupun 20 ribu,” ujarnya.

Ia menambahkan, variasi lauk yang dihadirkan dalam perlombaan itu cukup beragam. Telur, misalnya, disajikan dalam banyak bentuk, mulai dari ceplok, goreng, balado, hingga dadar. Hal serupa juga terlihat pada ayam goreng yang dibuat dengan beragam olahan. Dari situ, kata Airlangga, terlihat bahwa menu sehat tidak harus monoton, justru bisa disusun dengan banyak pilihan rasa dan tampilan.

Prabowo dan simbol makanan yang dekat dengan publik

Kehadiran Prabowo dalam suasana yang akrab dengan urusan dapur dan makanan sehari-hari memberi kesan lain dari panggung politik yang biasanya formal. Nasi goreng, yang lekat dengan kebiasaan makan masyarakat, menjadi simbol yang mudah dipahami publik. Di acara Golkar itu, momen memasak dan pembahasan soal harga makanan sehat seolah mempertegas pesan bahwa isu pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan.

Dengan narasi seperti itu, acara tersebut tak berhenti pada seremoni, melainkan juga membawa pesan praktis: makanan sehat bisa dirancang dalam batas biaya tertentu tanpa kehilangan variasi. Dalam konteks politik, pesan semacam ini kerap lebih mudah ditangkap ketimbang janji yang terlalu abstrak.

Berita Terbaru