14.8 C
Munich

Geopolitik sebagai Faktor Penting dalam Pemilihan Presiden 2024 menurut Budiman Sudjatmiko

Harus dibaca

JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk Pemilu 2024, Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Budiman Sudjatmiko, mengingatkan bahwa pilihan politik kali ini tidak bisa dilepaskan dari peta besar dunia. Menurut dia, faktor geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi akan ikut menentukan arah Indonesia ke depan, termasuk risiko yang muncul jika transisi kekuasaan tidak dikelola dengan hati-hati.

Geopolitik dan tekanan global jadi sorotan

Budiman menilai Indonesia sedang berada pada titik yang rawan sekaligus strategis. Ia menyebut, negara ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kuat secara elektoral, tetapi juga mampu membaca perubahan global yang bergerak cepat. “Indonesia berada dalam posisi yang krusial dalam menghadapi risiko global. Kita memerlukan pemimpin yang strategis dan visioner untuk mengelola tantangan-tantangan ini dengan baik,” ujarnya.

Dalam pandangannya, ada tiga faktor besar yang patut dicermati. Pertama, kondisi pascapandemi yang belum sepenuhnya pulih. Kedua, perang antarnegara besar yang masih berlangsung di berbagai kawasan dunia. Ketiga, revolusi industri keempat yang ditopang teknologi digital dan biologis.

Tiga risiko yang menurut Budiman tak bisa diabaikan

Budiman menggambarkan situasi pemulihan pascapandemi saat ini mirip dengan fase dunia setelah Pandemi Flu Spanyol seabad lalu. Ia juga menyinggung konflik yang masih berkecamuk, termasuk perang di Ukraina yang memperlihatkan ketegangan antara Barat dan Rusia.

Di sisi lain, perkembangan teknologi dinilai membawa konsekuensi baru yang tidak kalah besar. “Revolusi industri kedua terjadi seabad yang lalu dengan penggunaan listrik, sedangkan sekarang kita menghadapi revolusi industri keempat dengan teknologi digital dan biologis,” katanya.

Menurut dia, perubahan besar semacam itu dalam sejarah kerap diikuti gejolak sosial dan politik. Ia menyebut bangkitnya nasionalisme dan sosialisme pada abad lalu sebagai salah satu contoh yang kemudian memicu konflik besar hingga Perang Dunia II.

Indonesia diminta bersiap menghadapi eskalasi konflik

Meski tidak menginginkan sejarah serupa berulang, Budiman mewanti-wanti agar Indonesia tidak lengah. Ia menilai, sebagai negara yang kaya sumber daya alam tetapi masih memiliki tantangan pada kualitas sumber daya manusia dan tanpa senjata nuklir, Indonesia rentan menjadi sasaran kepentingan pihak luar.

“Indonesia memiliki risiko yang cukup tinggi dalam eskalasi konflik global. Kita kaya akan sumber daya alam, namun kekurangan dalam sumber daya manusia dan tidak memiliki senjata nuklir,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik antarkelas, maupun ketegangan suku dan agama, bisa dimanfaatkan jika negara tak memiliki kepemimpinan yang kuat dan berkelanjutan. Dalam konteks itu, Pemilu 2024, terutama pemilihan presiden, disebutnya menjadi momen penting untuk memastikan arah kebijakan Indonesia tetap stabil.

Budiman menilai posisi Indonesia saat ini sebenarnya cukup strategis di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. “Hari ini, di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia berada dalam posisi global yang strategis. Kita memiliki banyak sumber daya alam yang dibutuhkan dalam rantai pasok global,” ungkapnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kesinambungan melalui transisi kekuasaan yang damai dan visioner. Bagi Budiman, masa depan Indonesia tak hanya ditentukan oleh siapa yang menang, tetapi oleh seberapa siap negara ini membaca arah dunia yang sedang berubah cepat. (SENOPATI)

Source link

Berita Terbaru