13.2 C
Munich

Kue Cubit, Jajanan Gurih yang Disukai Banyak Kalangan

Harus dibaca

Kue Cubit, Jajanan Lama yang Masih Bertahan di Tangerang

KAB. TANGERANG – Di tengah gempuran camilan kekinian, kue cubit tetap punya tempat di lidah sebagian warga Kabupaten Tangerang. Jajanan sederhana ini masih dijajakan pedagang kaki lima, meski kini keberadaannya tak lagi sebanyak dulu. Bagi sebagian orang, kue cubit bukan sekadar makanan ringan, melainkan pengingat masa sekolah dan kebiasaan jajan di pinggir jalan.

Masih Dicari karena Sederhana dan Murah

Nama kue cubit berasal dari cara mengambilnya saat matang, yakni dicubit dengan penjepit sebelum dipindahkan ke wadah. Bentuknya kecil, prosesnya cepat, dan bahannya pun tidak rumit. Adonan kue cubit umumnya dibuat dari tepung terigu, margarin, gula, dan telur sebagai komposisi utama. Untuk tampilan yang lebih menarik, penjual kerap menambahkan pewarna makanan serta varian rasa seperti pandan, nangka, dan taro.

“Untuk bahan adonannya cuma pakai terigu, margarin, gula, sama telur. Dan ada tambahan pewarna makanan biar lebih menarik dan ada varian rasa,” kata Ipul, penjual kue cubit di Kabupaten Tangerang, Selasa (1/10/2024).

Dibuat Cepat, Dijual dengan Aneka Topping

Proses membuat kue cubit terbilang praktis. Cetakan kecil diolesi mentega atau margarin, adonan dituangkan, lalu dipanaskan hingga matang. Setelah itu, kue dipindahkan ke mika plastik untuk dijual. Agar tampil lebih menggoda, penjual biasanya menambahkan topping seperti meses, selai, susu, dan keju.

Soal harga, kue cubit tetap dipasarkan dengan banderol yang ramah di kantong. Ipul menjualnya mulai Rp1.000, sementara untuk satu porsi dalam mika plastik dibanderol Rp5.000. Menurut dia, pembeli datang dari berbagai kalangan, meski anak-anak masih menjadi pelanggan yang paling sering terlihat.

“Harga mulai dari Rp1.000, kalau di mika plastik Rp5.000. Kebanyakan yang beli itu anak-anak, tapi orang dewasa juga suka beli,” tambahnya.

Berjualan Sejak 2011 di Rajeg

Ipul sudah menjalankan usaha kue cubit sejak 2011 dan hingga kini masih bertahan berjualan di sekitar Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. Ia biasa mulai berjualan pada pukul 4 sore hingga pukul 1 malam. Cara menjajakan dagangannya pun dilakukan dengan berkeliling dari satu titik ke titik lainnya. Namun, menjelang malam ia kerap mangkal di lokasi yang ramai pembeli.

Di antara deretan jajanan yang terus berganti tren, kue cubit masih punya daya tarik sendiri: sederhana, murah, dan akrab di ingatan banyak orang. Sarah, salah satu pembeli, mengaku mengenal jajanan itu sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia juga mendapat rekomendasi dari teman-temannya.

“Taunya dari zaman sekolah SD. Sama rekomendasi teman juga, biasanya beli yang topping keju sama susu,” ujar Sarah selaku pembeli.

(Mg-Dka/Red)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News

Source link

Berita Terbaru