Pernikahan biasanya diidentikkan dengan kebahagiaan karena cinta, namun terkadang ada juga pernikahan yang lahir dari tekanan sosial atas orientasi seksual. Fenomena ini dikenal dengan istilah lavender marriage, yaitu pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang bukan didasari oleh cinta, melainkan sebagai upaya untuk menutupi orientasi seksual sebenarnya. Lavender marriage seringkali terjadi karena tekanan sosial, budaya, agama, atau ekspektasi keluarga terhadap orientasi seksual non-heteroseksual.
Meskipun lavender marriage dianggap memberikan rasa aman dalam jangka pendek, namun memiliki dampak negatif terhadap kondisi psikologis individu yang menjalaninya. Hal ini termasuk kecemasan, stres, depresi, hilangnya identitas, masalah dalam hubungan, hingga trauma yang mirip dengan PTSD. Alasan terjadinya lavender marriage antara lain karena tekanan sosial dan budaya, menjaga karier dan reputasi, agama, keinginan untuk berkeluarga, keamanan finansial dan sosial, serta perlindungan dari hukum dan sorotan publik.
Perlu diingat bahwa lavender marriage pertama kali muncul pada awal abad ke-20 di Hollywood, di mana homoseksualitas dianggap tabu bahkan ilegal di banyak negara. Meskipun ada selebritas atau tokoh publik yang menjalani pernikahan ini untuk menjaga karier dan menghindari diskriminasi, namun pernikahan semacam itu umumnya berakhir dengan perceraian karena tidak didasari oleh cinta sejati. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengatasi dampak psikologis serta alasan di balik fenomena lavender marriage untuk kesejahteraan individu yang terlibat.
