18.1 C
Munich

Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba & Masalah Mental?

Harus dibaca

Perubahan iklim tak hanya mengubah cuaca dan lanskap, tetapi juga ikut menekan kesehatan mental dan perilaku sebagian orang. Dalam laporan terbaru Badan Keamanan Kesehatan Inggris atau United Kingdom Health Security Agency (UKHSA), kekhawatiran terhadap krisis iklim disebut dapat memicu ketakutan ekologis yang berujung pada penyalahgunaan narkoba, depresi, kecemasan, hingga risiko bunuh diri.

Ketakutan ekologis dan pelarian yang keliru

UKHSA menilai, sebagian orang merespons tekanan emosional akibat perubahan iklim dengan cara yang tidak sehat, termasuk mengonsumsi narkoba untuk meredakan cemas dan takut. Gejala seperti eco-anger, eco-grief, dan eco-guilt juga disebut dapat muncul ketika seseorang merasa marah, berduka, atau bersalah melihat kondisi lingkungan yang terus memburuk.

Rangkaian emosi itu, menurut laporan tersebut, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan PTSD. Dalam situasi tertentu, kekhawatiran terhadap perubahan iklim juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko perilaku kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), terutama saat cuaca ekstrem terjadi.

Dari suhu panas ke tekanan psikologis

Laporan UKHSA juga menyoroti dampak kenaikan suhu lingkungan. Cuaca yang lebih panas disebut berkaitan dengan meningkatnya risiko bunuh diri serta bertambahnya kunjungan ke rumah sakit untuk layanan kesehatan mental. Dengan kata lain, perubahan iklim tidak berhenti pada persoalan fisik seperti banjir atau kekeringan, melainkan merembet ke beban psikologis yang lebih luas.

Efeknya pun tidak selalu singkat. Kesadaran terhadap perubahan iklim dapat meninggalkan dampak jangka panjang, dari hitungan bulan hingga puluhan tahun, terutama bagi petani dan masyarakat agraris yang hidup langsung dari kondisi alam. Namun, laporan itu menegaskan, dampak serupa juga bisa dirasakan oleh siapa pun yang menyadari bahwa perubahan iklim tengah berlangsung.

Tekanan yang bisa berubah jadi dorongan aksi

Meski sarat risiko, UKHSA mencatat bahwa kesadaran terhadap krisis iklim tidak selalu berujung pada dampak negatif. Reaksi emosional seperti sedih, takut, marah, dan merasa tidak berdaya justru dapat mendorong sebagian orang untuk terlibat lebih jauh dalam aksi iklim. Keterlibatan publik ini dinilai berpotensi menjadi saluran yang lebih sehat untuk meredakan tekanan batin akibat perubahan iklim, alih-alih mencari pelarian lewat narkoba atau tindakan destruktif lain.

Source link

Berita Terbaru