Menteri Luar Negeri Belanda, David van Weel, mengecam ancaman Presiden AS Donald Trump terkait pemberlakuan tarif terhadap beberapa negara Eropa terkait Greenland. Van Weel menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk pemerasan yang tidak seharusnya dilakukan antar sekutu. Ia juga menekankan bahwa hal ini tidak akan memperkuat aliansi maupun meningkatkan keamanan Greenland.
Sikap van Weel ini muncul setelah pernyataan Trump yang mengancam akan memberlakukan tarif mulai 10 persen hingga 25 persen terhadap beberapa negara Eropa, termasuk Belanda, Norwegia, dan Swedia, hingga AS dapat membeli Greenland. Hal ini menimbulkan kehebohan di Eropa, dengan Jesse Klaver dari partai GroenLinks-PvdA menyerukan respons cepat, bersatu, dan tegas terhadap ancaman Trump.
Belanda sendiri telah melakukan langkah konkret dengan mengirimkan dua perwira ke Greenland untuk misi pengintaian bersama dengan sekutu NATO. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga keamanan wilayah tersebut di tengah retorika Trump yang menyebut Greenland sebagai bagian strategis bagi keamanan AS.
Meskipun Trump berulang kali menginginkan Greenland menjadi bagian dari AS, otoritas Denmark dan Greenland menegaskan bahwa mereka menolak tawaran tersebut dan meminta AS untuk menghormati integritas teritorial mereka. Greenland merupakan koloni Denmark dan meskipun telah memiliki otonomi sejak 2009, pulau tersebut tetap berada di bawah Kerajaan Denmark.
Keseluruhan situasi ini menunjukkan eskalasi ketegangan yang dialami antara AS dan beberapa negara Eropa terkait Greenland. Reaksi keras dan respon cepat diperlukan dari pihak Eropa untuk menjaga kestabilan dan kedaulatan wilayah tersebut di tengah ancaman yang diutarakan oleh Trump.

