Gunung Samalas di Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi sorotan karena letusannya pada tahun 1257 masehi, yang tidak hanya menyebabkan bencana lokal tetapi juga dampak global yang signifikan. Abu dan sulfur yang tersebar akibat letusan tersebut memengaruhi iklim dunia, menyebabkan gagal panen, kelaparan, dan perubahan sosial di Eropa dan Asia. Jejak sejarah ini kini menjadi perhatian kembali dengan rencana pembangunan 50 museum baru di NTB, sebagai upaya untuk mengungkapkan warisan budaya dan sejarah yang belum sepenuhnya dijelaskan.
Gunung Samalas tidak hanya berdampak lokal tetapi juga berperan dalam sejarah iklim global. Letusannya diakui sebagai salah satu erupsi terbesar dalam dua milenium terakhir, menciptakan anomali cuaca ekstrem di Eropa. Dampak letusan ini terasa hingga ke Lombok, menghancurkan Kerajaan Pamatan di Tanak Beaq, Lombok Tengah, dan memaksa penduduk untuk pindah secara massal. Artefak peradaban lampau yang ditemukan di Tanak Beaq menjadi saksi bisu peradaban maju yang pernah ada di wilayah tersebut.
Sayangnya, sebagian besar artefak tersebut masih belum terlindungi dengan baik dan rentan terhadap kerusakan atau hilang. Pemerintah daerah NTB perlu segera mengambil langkah-langkah untuk melindungi warisan sejarah ini agar tidak hilang dari jejak sejarah dunia. Dengan demikian, jejak Gunung Samalas dan warisan sejarahnya dapat menjadi dasar pembangunan museum yang tidak hanya mengedukasi masyarakat tetapi juga melestarikan kekayaan budaya dan sejarah NTB.

