Buah selalu menjadi pilihan yang baik selama bulan puasa, baik untuk sahur maupun berbuka. Kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan, buah tidak hanya menyegarkan tapi juga memberikan nutrisi penting bagi tubuh. Ada dua cara untuk mengonsumsi buah, yaitu langsung atau dalam bentuk jus. Namun, National Institutes of Health (NIH) mengatakan bahwa mengonsumsi buah dalam bentuk utuh lebih baik daripada diolah menjadi jus. Saat buah dijus, serat, vitamin, dan antioksidannya berkurang, dan gula alami berubah menjadi gula bebas, yang lebih cepat diserap tubuh dan dapat meningkatkan kadar gula darah.
Buah utuh dianggap sebagai pilihan terbaik karena kandungan seratnya yang tinggi. Serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan, membantu rasa kenyang, dan mendukung pengendalian berat badan. Jus buah, meskipun segar dan menyegarkan, mengandung gula tinggi dan serat rendah, yang dapat memicu lonjakan gula darah dan meningkatkan nafsu makan. Konsumsi jus buah setiap hari juga dikaitkan dengan peningkatan berat badan, sementara konsumsi buah utuh berkaitan dengan penurunan berat badan.
Namun, dalam panduan menu sehat Ramadan, buah segar tetap dianjurkan sebagai bagian dari menu sahur dan berbuka. Jus buah juga bisa dikonsumsi dalam jumlah moderat tanpa tambahan gula. Memilih buah utuh sebagai camilan awal saat berbuka dapat membantu menjaga keseimbangan gula darah dan membuat kenyang lebih lama sebelum makan utama. Smoothie yang tetap mempertahankan serat buah juga bisa menjadi alternatif yang baik. Baik buah utuh maupun jus memiliki manfaatnya masing-masing, namun untuk menjaga kestabilan gula darah, memperpanjang rasa kenyang, dan mengontrol berat badan selama puasa, buah utuh cenderung menjadi pilihan yang lebih baik. Memahami perbedaan antara keduanya dapat membantu Anda membuat pilihan yang sesuai demi menjaga energi dan kesehatan selama Ramadan.
