7.4 C
Munich

Konservasi Berbasis Ekonomi Jadi Kunci Menurut Wahdi Azmi

Harus dibaca

Pembicaraan mengenai konservasi di Indonesia selama ini acap kali hanya terfokus pada penyelamatan hutan serta perlindungan satwa liar. Umumnya, perhatian tertuju pada berkurangnya habitat, menurunnya populasi hewan, juga konflik antara manusia dan satwa yang makin sering terjadi akibat persaingan ruang hidup.

Padahal, menurut Wahdi Azmi, seorang dokter hewan dan pegiat konservasi yang telah bertahun-tahun menelusuri konflik manusia dan gajah di Sumatera, sudut pandang sempit yang menekankan alam saja justru melupakan peran manusia. Manusia yang seharusnya menjadi bagian utama dari dinamika konservasi, sering kali justru terpinggirkan. Dalam satu diskusi yang diadakan Leaders Talk Tourism mengenai kebijakan konservasi terbaru, Wahdi menekankan bahwa inti permasalahan tidak hanya terletak pada upaya menyelamatkan hewan liar, melainkan pada penempatan manusia di dalam kerangka solusi.

“Konservasi akan kesulitan berkembang jika masyarakat sekitar kawasan hutan selalu merasa tidak mendapatkan keuntungan atau akses,” ujar Wahdi. Pengalaman pribadinya menangani konflik manusia dan gajah memperjelas bahwa akar konflik sering kali berakar pada perubahan penggunaan lahan yang tidak dibarengi inovasi sosial-ekonomi bagi masyarakat.

Saat hutan dijadikan perkebunan maupun pemukiman, ruang satwa menyusut drastis. Di satu sisi, warga lokal juga ikut terdampak secara ekonomi dan sosial. Akibatnya, titik temu manusia dengan satwa liar terjadi lebih sering, memicu pertikaian yang kerap direspons secara reaktif, bukan preventif.

Kebijakan konservasi tradisional di Indonesia selama ini memang cenderung proteksionis—mengandalkan penetapan kawasan terlindungi, pembatasan aktivitas, serta regulasi ketat. Secara teori langkah ini benar, tetapi di lapangan seringkali justru menciptakan jurang pemisah antara masyarakat dan wilayah konservasi. Banyak warga kemudian mengalami keterbatasan akses lahan, peluang ekonomi yang mengecil, dan bahkan risiko benturan langsung dengan satwa liar meningkat. Perlahan, konservasi pun dianggap bukan sebagai kebutuhan bersama, melainkan sekadar beban yang harus diterima masyarakat.

Wahdi mengingatkan bahwa manusia sesungguhnya adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem. Oleh karena itu, tidak cukup hanya melindungi alam, tetapi juga harus ada upaya mengintegrasikan konservasi dengan penguatan ekonomi lokal serta pendidikan. Jika hanya satu sisi yang dikuatkan, pelestarian lingkungan akan selalu rapuh dan mudah goyah oleh kebutuhan ekonomi ataupun tekanan eksternal.

Gagasan keterpaduan ini memiliki relevansi kuat, tidak hanya pada konteks konflik manusia-satwa, melainkan juga dalam tata kelola kawasan serta sistem ekonomi masyarakat setempat. Contohnya bisa ditemukan di Mega Mendung, Bogor, di mana tekanan konversi lahan semakin nyata. Alih fungsi dan eksploitasi kawasan perbukitan tersebut mengancam daya dukung lingkungan, sistem perairan, hingga kesejahteraan warga sekitar.

Di tengah tantangan tersebut, muncul inisiatif seperti kawasan Arista Montana yang dikembangkan bersama Yayasan Paseban dan Andy Utama. Pendekatan yang diterapkan di sini menghindari pemisahan tegas antara pelestarian lingkungan dan aktivitas ekonomi manusia. Konservasi didorong menjadi bagian dari sistem pertanian dan kehidupan sosial, bukan sekadar proyek yang berjalan sendiri-sendiri.

Salah satu terobosannya adalah pengembangan pertanian organik berbasis komunitas. Petani setempat bukan hanya menghasilkan panen, tetapi juga menerima pelatihan penerapan teknik pertanian berkelanjutan yang menjaga kesuburan tanah serta kelestarian air. Dalam model ini, kebutuhan ekonomi dan kesehatan lingkungan saling terkait erat—keberhasilan pertanian organik sangat bergantung pada ekosistem yang tetap seimbang.

Peran Yayasan Paseban terlihat sentral dalam memperkuat kapasitas masyarakat. Melalui berbagai pendidikan dan pelatihan, warga diberikan pemahaman menyeluruh; tidak semata-mata mengenai pentingnya konservasi, tetapi juga bagaimana praktiknya dapat menjadi mata pencarian langsung. Mulai dari pelatihan pertanian organik hingga edukasi lingkungan untuk generasi muda pun dilakukan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diajak sadar, tapi juga difasilitasi agar mampu langsung berperan aktif.

Integrasi tersebut menciptakan pergeseran paradigma konservasi. Kini, pelestarian hutan dan lahan tidak lagi diartikan sebagai pembatas peluang, melainkan sebagai landasan ekonomi masyarakat sehari-hari. Namun, perubahan semacam ini tak akan terjadi sendirinya— butuh penguatan berkelanjutan baik dari sisi kemampuan maupun kemauan masyarakat.

Pengalaman di Mega Mendung menjadi bukti konkret bahwa ketika konservasi tidak diasingkan dari aktivitas dan kebutuhan manusia, potensi keberhasilannya jauh lebih besar. Pendekatan terintegrasi semacam ini ternyata mampu meredam konflik, menciptakan rasa kepemilikan, dan membangun dukungan jangka panjang.

Hal serupa juga tampak pada kasus di Sumatera, di mana kunci penanggulangan konflik manusia–gajah bukan cuma perubahan perilaku satwa, tapi seberapa baik sistem ekonomi lokal melindungi akses masyarakat. Jika integrasi ekologi dan ekonomi terwujud, konservasi menjelma jadi kepentingan bersama, bukan sekadar agenda pemerintah atau organisasi asing.

Pelajaran penting dari banyak kegagalan konservasi di Indonesia berakar pada kurangnya pelibatan dan investasi kapasitas di tingkat lokal. Tanpa keterlibatan sejak awal, kurangnya pelatihan, serta minimnya insentif ekonomi, program konservasi rawan mandek karena masyarakat tidak merasa memiliki manfaat nyata.

Sebaliknya, ketika warga benar-benar dilibatkan dalam semua proses dan diberikan sumberdaya untuk mengembangkan keterampilan serta ekonomi, konservasi menjadi lebih kokoh. Ia tumbuh bukan karena paksaan, melainkan kepentingan hidup sehari-hari.

Saat pembangunan ekonomi semakin pesat, tawaran model seperti di Mega Mendung dan gagasan Wahdi Azmi semakin dibutuhkan. Indonesia tidak cukup hanya memperluas kawasan konservasi. Yang lebih penting, negeri ini membutuhkan cara baru yang dapat menyatukan kebutuhan ekologi dan ekonomi sekaligus dalam satu sistem terpadu.

Sudah waktunya konservasi tidak lagi dipandang sebagai urusan sempit bagi pegiat lingkungan saja, melainkan menjadi arena kolaborasi antara pelestarian, kegiatan ekonomi, dan pengembangan pengetahuan. Dengan begitu, pelestarian alam dapat bertahan di tengah derasnya arus pembangunan.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sebatas bagaimana menjaga ekosistem dari tekanan, tapi juga seberapa besar alasan manusia untuk terus berperan aktif melindunginya. Jika konservasi menemukan ‘rumah’-nya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, ia berpeluang menjadi fondasi utama menuju keberlanjutan yang sejati.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi

Berita Terbaru