Ganja, baik medis maupun rekreasi, telah digunakan di beberapa negara untuk tujuan kesehatan. Namun, penelitian terkini menunjukkan bahwa ganja tidak efektif dalam mengatasi masalah kecemasan atau kondisi kesehatan mental lainnya. Ganja medis umumnya mengandung cannabidiol (CBD) dan delta-9-tetrahydrocannabinol (THC), tetapi analisis terbaru menunjukkan bahwa penggunaan ganja tidak membantu mengatasi gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, atau PTSD. Sebuah penelitian yang menganalisis lebih dari 54 uji coba acak yang diterbitkan antara 1980-2025 menemukan bahwa ganja tidak memiliki dampak positif pada kondisi kesehatan mental seperti gangguan bipolar, OCD, atau skizofrenia. Meskipun penggunaan ganja medis dan rekreasi semakin populer, terutama di Amerika Serikat dan Kanada, para ahli menyatakan bahwa dokter terus meresepkan ganja medis untuk kondisi kesehatan mental, meskipun kurangnya bukti kemanjurannya. Para ahli meragukan efektivitas ganja dalam mengatasi masalah kesehatan mental dan menyarankan penggunaan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) sebagai pendekatan farmasi yang lebih efektif untuk depresi dan kecemasan. Kombinasi SSRIs dengan terapi perilaku kognitif seperti cognitive behavioral therapy (CBT) juga direkomendasikan untuk pengobatan masalah kesehatan mental. Meskipun ganja mungkin populer, terdapat metode yang lebih terbukti untuk mengatasi gangguan kesehatan mental.
