Lebih dari 350 kapal sedang menunggu izin Iran untuk melintasi Selat Hormuz, sekitar 27 hari setelah dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Jalur perairan strategis tersebut tetap ditutup bagi AS, Israel, serta sekutu mereka, dan tidak ada kapal yang diizinkan melintas tanpa izin Iran. Kapal-kapal tersebut telah diperintahkan untuk mematikan sistem mereka dan tetap berada di tempat. Termasuk di antara kapal-kapal yang menunggu adalah 25 kapal tanker besar (supertanker), 200 kapal tanker minyak, serta 70 kapal pengangkut LNG dan CNG. Tanpa persetujuan Iran, kapal-kapal tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan maupun berlabuh di pelabuhan-pelabuhan regional, karena rute laut masih berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata Iran.
Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran, Alireza Tangsiri, menekankan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz harus berkoordinasi sepenuhnya dengan otoritas maritim Iran. Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran, yang memicu balasan Iran dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan pangkalan serta aset AS di Timur Tengah. Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, dengan memblokir kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS.
