Pemerintah Thailand tengah melakukan perombakan besar-besaran pada sektor pijat tradisionalnya untuk meningkatkan standar layanan, memperbaiki citra global, dan mengatasi praktik ilegal yang telah lama menghantui industri tersebut. Langkah ini diambil seiring dengan munculnya kembali industri wellness pasca pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan kehilangan ribuan tenaga terapis akibat penutupan bisnis dan perubahan profesi.
Di Bangkok, pelatihan terapis baru kini semakin diminati dengan peserta yang dapat mulai bekerja dalam waktu dua minggu di banyak klinik pijat, spa, dan pusat kebugaran di seluruh negara. Banyak peserta pelatihan berasal dari latar belakang non-medis, bahkan ada yang memasuki dunia pijat untuk pertama kalinya. Salah satu peserta, Darunee Bhumidid, menganggap keterampilan ini sebagai aset jangka panjang dan mengakui pijat tradisional Thailand sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga.
Perkembangan industri wellness di Thailand terus pesat, dengan nilai pasar domestik mencapai US$42,7 miliar pada 2024. Namun, sektor ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan seperti standar pelatihan yang tidak merata, pengawasan yang terfragmentasi, dan citra industri yang belum sepenuhnya konsisten. Demi mengatasi hal tersebut, pemerintah melalui Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif Thailand sedang mempersiapkan reformasi menyeluruh dengan fokus utama pada peningkatan kualitas tenaga kerja melalui sistem sertifikasi berjenjang.
Direktur Institute of Thai Traditional Medicine, Rutchanee Chantraket, menyebut reformasi ini sebagai titik balik penting bagi industri. Pemerintah juga sedang merancang sistem identitas digital untuk melacak kualifikasi terapis dan memperluas program pelatihan melalui universitas dan rumah sakit. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan jenjang karier yang jelas, memperkuat identitas pijat tradisional Thailand, dan meningkatkan daya saing industri.
Meskipun industri pijat Thailand memiliki potensi besar, tetap ada persoalan citra akibat praktik ilegal yang merugikan bisnis resmi dan merusak kepercayaan pelanggan. Pemerintah mengakui adanya kekurangan dalam pengawasan sebelumnya dan kini aktif memperketat regulasi serta meningkatkan pemahaman tentang branding industri. Meski reformasi ini berpotensi menyebabkan kenaikan harga layanan, banyak pelaku industri mendukung langkah ini demi keberlanjutan profesi dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja terapis yang telah menjadi tulang punggung keluarga.
