Pilot di maskapai yang beroperasi di Timur Tengah semakin cemas terhadap nasib pekerjaan mereka karena menolak terbang demi alasan keselamatan terkait dengan situasi di Iran. Presiden Federasi Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan Internasional (IFALPA), Ron Hay, mengungkapkan bahwa pilot di seluruh dunia menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi sanksi dari maskapai, seperti kehilangan gaji atau pemecatan.
Pilot dari berbagai negara, mulai dari Lebanon hingga India, mengungkapkan kekhawatiran akan balasan dari maskapai jika mereka menolak terbang dalam kondisi yang tidak terduga, di mana wilayah udara dapat ditutup tiba-tiba karena serangan rudal atau drone. Hay menyoroti bahwa beberapa pilot khawatir akan dipecat atau tidak mendapatkan pendapatan, sementara yang lain tidak diusir.
Kekhawatiran tersebut muncul ketika sejumlah maskapai penerbangan Timur Tengah terus beroperasi meskipun adanya gencatan senjata baru-baru ini dan ancaman serangan yang berkelanjutan. IFALPA mengeluarkan makalah untuk mengingatkan maskapai bahwa hak suara pilot mengenai keselamatan tidak dapat dinegosiasikan. Hal ini terutama penting karena personel yang terlibat dalam penerbangan di daerah konflik dapat mengalami stres, kecemasan, dan kelelahan yang tinggi. Maskapai di Timur Tengah harus memprioritaskan keselamatan dalam operasional penerbangan mereka.
Meskipun demikian, ada ketegangan antara kepentingan keselamatan pilot dan keputusan bisnis yang diambil oleh maskapai. Beberapa pilot merasa sulit untuk mempertahankan standar keselamatan di tengah konflik yang terus berlanjut di wilayah tersebut. IFALPA berusaha memberikan dukungan kepada pilot dan mengingatkan maskapai mengenai pentingnya mendengarkan suara pilot dalam keputusan yang berdampak pada keselamatan penerbangan. Semua pihak berharap situasi ini akan segera diselesaikan tanpa mengorbankan keselamatan dan keamanan penerbangan di Timur Tengah.
