Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di Kelurahan Tangki, Jakarta Barat, tengah merawat lahan pertanian perkotaan yang dibangun di atap Kantor Kelurahan Tangki. Di tengah sempitnya ruang hijau di kawasan padat, area yang tak biasa itu kini disulap menjadi sumber pangan sekaligus ruang belajar bagi warga sekitar.
Atap kantor kelurahan jadi lahan produktif
Lahan di atap kantor kelurahan itu dimanfaatkan masing-masing seluas 50 meter persegi dan 30 meter persegi. Di atas bangunan tersebut tumbuh beragam tanaman, mulai dari buah, sayuran, padi, hingga tanaman obat. Tak hanya itu, ada pula budidaya ikan nila yang melengkapi konsep pertanian perkotaan tersebut. Seluruh kegiatan itu diarahkan untuk mendukung program ketahanan pangan di Kelurahan Tangki.
Keberadaan kebun di atap gedung menjadi jawaban atas keterbatasan lahan di wilayah perkotaan. Di Jakarta, ruang terbuka hijau kerap kalah oleh bangunan dan aktivitas harian kota. Karena itu, pemanfaatan atap gedung dinilai sebagai langkah yang lebih dari sekadar penghijauan, melainkan upaya menjaga ketersediaan pangan dari skala kecil di lingkungan warga.
Kolaborasi PPSU dan PKK
Perawatan tanaman dilakukan oleh PPSU bersama PKK setempat. Kolaborasi ini membuat pengelolaan kebun atap berjalan lebih teratur, sekaligus menunjukkan bahwa urusan pangan dan lingkungan bisa digerakkan dari tingkat kelurahan. Dari sisi ekologis, tanaman-tanaman itu membantu menghasilkan oksigen, menyaring polusi udara, dan menghadirkan suasana yang lebih sejuk di tengah kawasan yang padat.
Program ini juga menyimpan nilai praktis. Hasil panen dapat dimanfaatkan warga sekitar, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada tampilan hijau di atas bangunan. Dengan pola seperti ini, Kelurahan Tangki memperlihatkan bahwa ruang yang semula kosong masih bisa diolah menjadi sumber daya yang berguna bagi lingkungan dan masyarakat.
Contoh kemandirian pangan di tengah kota
Inisiatif pertanian perkotaan di atap Kantor Kelurahan Tangki memberi gambaran tentang cara baru merawat kota tanpa memutus kebutuhan dasar warganya. Ketika lahan terus menyempit, kreativitas menjadi kunci. Dari ruang yang terbatas, muncul upaya menjaga lingkungan tetap hijau sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.
Langkah PPSU dan PKK ini sekaligus menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu berangkat dari lahan luas. Di Tangki, ia tumbuh dari atap gedung, dari kerja rutin petugas, dan dari kolaborasi warga yang melihat ruang kosong sebagai peluang, bukan sekadar sisa bangunan.
Source link
