Jakarta, CNN Indonesia — Disparekraf DKI Jakarta mengambil langkah strategis dengan memanfaatkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, terutama turis asal Malaysia, China, dan Jepang.
Manfaat Negatif Sebagai Magnet Positif
Saat nilai tukar rupiah anjlok, turis asing menjadi terdorong untuk mengunjungi Jakarta karena daya beli mata uang mereka meningkat. Hal ini membuat biaya perjalanan dan akomodasi di Jakarta terasa lebih murah dan kompetitif.
Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta, Lucky Wulandari, menjelaskan bahwa dampak positif dari situasi ekonomi ini adalah meningkatnya durasi tinggal wisman di Jakarta. Turis asing kini bisa memperpanjang kunjungannya berkat harga yang lebih kompetitif.
Strategi Promosi dan Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2026
Sebagai bagian dari strategi penyerapan pasar internasional, Disparekraf Jakarta telah mengintegrasikan promosi kota dengan gelaran Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2026. Langkah ini diharapkan dapat merangsang minat belanja para turis asing yang berkunjung ke Jakarta.
Promosi ini difokuskan pada tiga negara penyumbang wisatawan terbanyak di Jakarta, yaitu Malaysia, China, dan Jepang. Turis dari Malaysia lebih suka berwisata kuliner dan berbelanja, sementara turis China lebih tertarik pada wisata urban dan bisnis. Sedangkan turis Jepang lebih dominan dalam sektor pariwisata budaya dan kuliner.
Dengan menargetkan lonjakan transaksi belanja dari turis asal Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura, Pemprov DKI Jakarta berharap tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif lokal di tengah dinamika nilai tukar mata uang global.
