Sebagian besar orang seringkali mengaitkan rasa mual, perut panas, dan gangguan pencernaan dengan penyakit GERD. Namun, gejala yang sama juga dapat muncul pada kasus IBD atau Inflammatory Bowel Disease, yaitu radang usus kronis. Penting untuk memahami perbedaan antara GERD dan IBD agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat dan tidak terlambat.
Hindari Keterlambatan Diagnosis dengan Memahami Perbedaan GERD dan IBD
Menurut Konsultan Gastroentero Hepatologi Eka Hospital MT Haryono, Murdani Abdullah, gejala yang mirip pada berbagai penyakit pencernaan seringkali membingungkan masyarakat. Karenanya, penting untuk memeriksakan diri ke ahli gastroenterologi untuk mendapatkan diagnosis yang akurat.
GERD sendiri merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, yang ditandai dengan sensasi panas di dada, mulut terasa pahit, mual, dan terbakar di ulu hati. Sementara itu, IBD adalah penyakit radang usus kronis yang menyebabkan berbagai keluhan seperti diare berulang, nyeri perut, BAB berdarah, penurunan berat badan, dan mudah lelah.
Pentingnya Pola Makan dan Gaya Hidup dalam Pengobatan GERD dan IBD
Prof Murdani menekankan bahwa pola makan dan gaya hidup berperan penting dalam mencegah kambuhnya kedua penyakit ini. Makanan tinggi lemak dan gorengan bisa memicu naiknya asam lambung pada penderita GERD, sementara alkohol, rokok, gula murni, dan makanan mengandung emulsifier dapat memperburuk peradangan usus pada penderita IBD.
Pengobatan kedua penyakit tersebut juga berbeda, di mana terapi IBD dilakukan dalam tahap induksi untuk mencapai remisi dan tahap perawatan untuk menjaga kondisi tetap stabil. Sementara itu, GERD terbagi menjadi dua jenis dengan penanganan yang berbeda.
Perlu diingat bahwa setiap individu memiliki toleransi yang berbeda terhadap makanan dan pengobatan. Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Jangan panik saat mendapat diagnosis GERD atau IBD, karena tidak semua kondisi tersebut berbahaya atau akan berkembang menjadi komplikasi serius. Penting untuk menjaga keseimbangan mental dan tidak memicu stres berlebihan yang justru dapat memperburuk gejala yang dirasakan.
Source link
