24.2 C
Munich

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Satukan Tokoh Adat dan Aktivis Lingkungan Nusantara

Harus dibaca

Langkah-langkah yang kita lakukan hari ini adalah fondasi nyata bagi keberlangsungan bumi di masa mendatang. Sering kali, diskusi tentang nasib lingkungan justru berfokus pada anak cucu yang bahkan belum lahir, padahal kesempatan untuk menentukan arah planet ini ada di tangan kita sekarang juga. Kini, ketika laju deforestasi makin sulit dibendung dan ancaman iklim kian nyata, merawat bumi telah berubah dari sukarela menjadi keharusan moral bersama.

Semangat menjaga harmoni alam itu kembali diangkat lewat acara sakral Ngertakeun Bumi Lamba XVIII yang diselenggarakan di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang. Dengan mengusung tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” ritual tahunan ini mengundang para pemangku adat, budayawan, dan aktivis dari penjuru nusantara untuk bersama-sama merefleksikan relasi manusia dengan alam semesta.

Pada momen penuh keheningan itu, Andy Utama selaku Pembina Paseban Foundation menegaskan urgensi masa kini dalam satu kalimat sederhana namun tajam: “Dengan Adanya Hari Ini, Maka Baru Ada Hari Esok.” Kata-katanya menancap kuat di jiwa para peserta, menegaskan makna mendalam bahwa setiap tindakan hari ini menentukan peluang kehidupan esok.

Nilai-Nilai Luhur dalam Tradisi dan Pemikiran Modern

Apa yang diwujudkan dalam Ngertakeun Bumi Lamba sesungguhnya adalah penerjemahan etika lingkungan yang telah lama tumbuh di negeri ini. Jauh sebelum istilah keadilan antargenerasi dikenal luas, Emil Salim sudah meletakkan fondasi pemikiran pembangunan berkelanjutan sejak era 1970-an. Baginya, keseimbangan ekonomi dan ekologi adalah syarat mutlak agar bumi tetap layak huni bagi masa depan.

Ranah akademik global mengenal ide senada melalui teori intergenerational justice dari Richard P. Hiskes, yang menegaskan kewajiban moral generasi sekarang untuk melindungi hak generasi mendatang atas lingkungan hidup yang sehat. Prinsip inilah yang menjadi benang merah seluruh upaya konservasi di Indonesia, dan diadopsi penuh oleh Andy Utama dalam perjuangannya.

Melalui sudut pandang ini, kita didorong untuk tidak melihat alam sebagai milik pribadi yang bisa dieksploitasi seenaknya, melainkan warisan bersama yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Aksi Menjaga Bumi: Dari Gagasan Hingga Tindakan Nyata

Andy Utama bersama Paseban Foundation membuktikan bahwa prinsip luhur tidak cukup hanya sebatas narasi atau seremoni, melainkan butuh aksi nyata. Di Lanskap Megamendung, berbagai langkah konkret telah dijalankan demi melestarikan ekosistem.

Mereka mengembangkan pertanian organik yang ramah lingkungan, bukan sekadar memperbaiki kualitas tanah dan udara, tetapi juga mengurangi emisi karbon secara signifikan. Tidak hanya itu, upaya penyelamatan satwa terus digenjot dengan membangun berbagai pusat konservasi seperti Lembah Aviary Paseban dan penangkaran Rusa Timor, serta melepasliarkan Elang Jawa yang terancam punah.

Lebih dari 21.800 bibit pohon dari ratusan varietas tanaman hutan telah ditanam secara massal. Program reboisasi ini ditujukan untuk mengembalikan wajah asli Megamendung seperti sediakala, sebuah mimpi panjang untuk menghidupkan kembali kekayaan vegetasi lokal yang mulai hilang.

Pewarisan Nilai Lewat Keteladanan

Berbeda dari gerakan lingkungan kebanyakan, upaya Andy justru menonjol karena mampu merangkai teori-teori besar menjadi langkah nyata yang benar-benar berdampak. Tidak ada retorika kosong atau klaim bombastis. Yang ada adalah kerja keras di lapangan—dengan tangan yang menanam pohon, memberi makan satwa, dan merawat bumi secara langsung.

Andy menutup pesannya dengan pertanyaan mendalam yang patut direnungkan: Apa yang benar-benar akan tersisa dari kehidupan kita setelah segalanya usai? Menurutnya, bukan harta benda yang akan abadi, melainkan jejak kebaikan dan warisan alam yang kita tinggalkan bagi dunia.

Inilah hakikat dari Ngertakeun Bumi Lamba: melestarikan bumi hari ini adalah modal satu-satunya untuk memastikan bahwa kehidupan manusia bisa terus berlanjut. Sebab, menanam kebaikan dan menjaga lingkungan adalah warisan terbaik yang bisa diberikan generasi sekarang untuk masa depan.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII

Berita Terbaru