24.4 C
Munich

Kenali Risiko DBD pada Anak di Sekolah: 59% Kematian Terjadi

Harus dibaca






Perlindungan Anak dari DBD

Perlindungan Anak dari Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jakarta, CNN Indonesia — Menyambut tahun ajaran baru, persiapan perlindungan dari demam berdarah dengue (DBD) pada anak menjadi hal penting. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kelompok usia 5-14 tahun rentan terdampak DBD. Data menunjukkan angka kematian akibat dengue pada anak usia 0-14 tahun mencapai 59% pada tahun 2025.

Risiko Dengue Tidak Musiman

DBD bukan penyakit musiman, tetapi risiko penularannya ada sepanjang tahun. Nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD aktif menggigit pada pagi dan sore hari, sehingga anak tetap rentan terinfeksi baik di rumah, sekolah, maupun di lingkungan sekitarnya.

Sebuah studi menunjukkan bahwa infeksi dengue tidak selalu menunjukkan gejala, dan hampir 45% anggota keluarga pasien DBD turut terinfeksi. Maka dari itu, pencegahan DBD tidak hanya dilakukan di rumah, tetapi juga di lingkungan sekolah.

Pencegahan dan Peran Sekolah

Sekolah memiliki peran penting dalam pencegahan DBD. Selain menjaga lingkungan sekolah agar bebas genangan air, pemantauan jentik nyamuk juga perlu dilakukan. Gerakan 3M Plus (Menguras, Mengubur, Menutup, Plus: Masyarakat Peduli Sehat) dapat membantu mencegah penularan DBD.

Seseorang yang pernah terkena DBD tetap berisiko terinfeksi kembali oleh serotipe virus yang berbeda. Karena itu, pencegahan melalui penggunaan pelindung diri dari gigitan nyamuk dan vaksinasi dengue sangat penting bagi anak dan anggota keluarga.

Perlindungan dari DBD harus dilakukan secara menyeluruh dengan konsultasi dokter untuk mendapatkan langkah pencegahan yang tepat. Hal ini tidak hanya tanggung jawab keluarga, namun juga sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat secara keseluruhan.

Sumber: CNN Indonesia

Source link

Berita Terbaru