Penumpang Operator Kereta Lumo Tersiksa Perjalanan Panjang Tanpa Toilet
Jakarta, CNN Indonesia — Kesempatan untuk menikmati perjalanan dengan kereta api seringkali dihadang oleh berbagai tantangan. Hal ini juga dirasakan oleh para penumpang operator kereta Lumo yang terpaksa harus menempuh perjalanan jauh melebihi lima setengah jam tanpa akses fasilitas toilet di dalam kereta.
Operator kereta api ini tetap mengoperasikan sejumlah armada di rute West Coast Main Line yang menghubungkan London Euston dengan Stirling di Skotlandia Tengah. Sayangnya, seluruh fasilitas toilet di dalam rangkaian kereta mengalami rusak total dan tidak dapat digunakan.
Perjalanan Terhenti di Stasiun Perantara
Untuk meminimalisir ketidaknyamanan penumpang, perjalanan kereta terpaksa dihentikan lebih lama di beberapa stasiun perantara, seperti Stasiun Preston. Hal ini memberikan kesempatan bagi para penumpang untuk turun dan menggunakan fasilitas toilet di peron stasiun.
Salah satu perjalanan kereta jadwal keberangkatan pukul 06.11 dari London Euston mengalami keterlambatan hingga 58 menit dan terpaksa mengakhiri perjalanan lebih awal di Stasiun Motherwell, Lanarkshire Utara. Lumo menggunakan armada kereta Class 222 Meridian hasil rekondisi untuk rute West Coast.
Permohonan Maaf dan Perbaikan yang Berlanjut
Menurut juru bicara Lumo, permohonan maaf telah disampaikan atas gangguan operasional ini. Mereka juga mengonfirmasi bahwa proses perbaikan sedang berlangsung.
“Kami mengakui adanya masalah keandalan pada sejumlah fasilitas toilet di armada rute West Coast kami. Saat ini kami bekerja sama erat dengan pihak Alstom untuk segera menyelesaikan masalah teknis tersebut,” ujar juru bicara Lumo seperti dilansir Independent.
Alstom merupakan perusahaan yang melakukan rekondisi armada kereta milik Lumo. Selain rute West Coast, operator ini juga mengoperasikan rute East Coast Main Line yang menghubungkan London Kings Cross dengan kota Edinburgh, Glasgow, dan Falkirk.
Lumo beroperasi dengan skema open access, sehingga memiliki wewenang penuh dalam menentukan tarif tiket dan tidak menerima subsidi dari uang rakyat. Model bisnis ini membuat Lumo tidak terdampak oleh kebijakan nasionalisasi kembali seluruh layanan kereta berbasis waralaba yang tengah dijalankan Pemerintah Inggris.
