14.8 C
Munich

Paseban Foundation Catat Penanaman 21.831 Pohon hingga Agustus 2026

Harus dibaca

Upaya pelestarian satwa di Jawa masih menemukan titik cahaya dengan ditemukannya lima spesies primata yang berhasil bertahan di Megamendung, sebuah kawasan pegunungan dekat Bogor. Hasil temuan terbaru ini lahir dari kerja keras tim Paseban Foundation melalui penelitian lanjutan, pengamatan secara langsung, serta pemasangan kamera pemantau gerak satwa liar di lapangan.

Penemuan tersebut dipresentasikan pada acara tahunan yang digelar Paseban Foundation di Jakarta bersamaan dengan perayaan Hari Konservasi Alam Nasional, sekaligus menandai ulang tahun kedua organisasi tersebut. Momen ini menjadi pengingat pentingnya keberadaan Megamendung sebagai habitat terakhir sejumlah fauna Jawa.

Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, mengungkapkan bahwa di tengah tekanan aktivitas manusia yang begitu besar di Pulau Jawa, Megamendung menjadi tempat berlindung kelima jenis primata tersisa yang kini telah terkonfirmasi menghuni kawasan dengan luasan terbatas.

Kehadiran primata dalam jumlah lengkap di Megamendung memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai pusat keanekaragaman hayati yang vital untuk kelangsungan satwa liar di Jawa.

Penelitian di lapangan turut menemukan beberapa satwa karismatik lain, seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, serta mencatat keragaman flora dan fauna khas kawasan hutan tropis pegunungan.

Lokasi Megamendung yang relatif dekat dari Jakarta dan berada dalam ruang lingkup Cagar Biosfer Cibodas, menjadikannya kawasan dengan tekanan tinggi akibat perluasan pembangunan dan aktivitas masyarakat. Mekanisme cagar biosfer memang menyeimbangkan perlindungan habitat dengan pemanfaatan terkontrol, sehingga mengatur zona perlindungan ketat, area penyangga, dan ruang interaksi sosial.

Interaksi antara unsur hutan, air, satwa, pertanian, dan permukiman menjadi satu sistem ekologi yang saling berkaitan di kawasan ini. Keberlangsungan satwa liar sangat tergantung pada ekosistem secara utuh.

Menurut Penasihat Paseban Foundation, Wiratno, batas administratif pemerintah tidak sejalan dengan batas alami yang diikuti oleh air dan satwa. Satwa liar cenderung berpindah mengikuti kecukupan habitat, sementara air mengalir melintasi batas wilayah administratif, sehingga dibutuhkan model konservasi lintas sektoral.

Ia menyatakan bahwa keberhasilan perlindungan kawasan semacam ini hanya dapat terwujud jika melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat, swasta, hingga akademisi dan aktivis lingkungan, untuk bekerja sama secara terpadu dalam pengelolaan ekosistem.

Salah satu langkah nyata adalah program penanaman pohon endemik, yang hingga Agustus 2026 telah merehabilitasi lanskap Megamendung dengan lebih dari 21.800 bibit pohon untuk membangun kembali tutupan hutan asli.

Selain strategi perlindungan di habitat alami, Paseban Foundation juga menggalang upaya konservasi eks-situ melalui penangkaran satwa secara legal. Usaha eks-situ yang dilakukan memungkinkan pelestarian fauna langka lewat pembiakan terkontrol di luar habitat, dengan fokus utama tidak pada komersialisasi.

Dari program tersebut, telah lahir tiga ekor anak rusa, yang kedepannya direncanakan untuk dikembalikan ke alam liar Megamendung sebagai bagian dari program reintroduksi guna membangun ulang rantai makanan alami ekosistem.

Namun, proses pelepasliaran satwa bukan perkara sederhana. Diperlukan proses pemulihan fisik dan mental hewan, pengujian insting alami, serta penilaian layak tidaknya habitat sebelum satwa benar-benar dapat hidup mandiri. Pemantauan berkelanjutan juga menjadi bagian wajib guna menilai dampak pada populasi maupun lingkungan sekitar.

Andy Utama, pendiri Paseban Foundation, menekankan pentingnya komitmen jangka panjang dalam upaya pemulihan lingkungan di kawasan Megamendung. Ia mendapat inspirasi untuk meluncurkan Megamendung Century Initiative, sebuah gagasan untuk mengembalikan fungsi ekologis wilayah ini hingga mendekati kondisi ratusan tahun lampau secara bertahap.

Tujuan program besar ini bukan sekadar meniru masa lalu, melainkan membangun kembali kemampuan lingkungan untuk menopang keanekaragaman, membenahi tutupan vegetasi, menjaga kelestarian hidrologi, dan memastikan integrasi aktivitas manusia dengan alam.

Andy menegaskan bahwa upaya konservasi tidak akan selesai dalam satu generasi saja. Misi pelestarian harus diwariskan dan dilanjutkan oleh generasi penerus karena memerlukan kesabaran, dedikasi, dan ketahanan lintas waktu.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor

Berita Terbaru