Jakarta, CNN Indonesia — Pesawat terbang bermesin listrik baterai terbesar di dunia sukses mengudara dalam uji coba perdana dengan durasi 27 menit. Biaya pengisian daya listrik untuk penerbangan ini sangat murah, bahkan lebih murah dari harga secangkir kopi di Inggris.
Pesawat tersebut berasal dari perusahaan teknologi penerbangan Amerika Serikat (AS), Heart Aerospace, dengan rentang sayap sepanjang 32,3 meter dan bobot lepas landas lebih dari 11,3 ton. Dalam uji coba pada 12 Agustus di Pangkalan Uji Terbang X1 Heart, Bandara Internasional Plattsburgh, New York, AS, pesawat purwarupa bernama X1 berhasil mengudara hingga ketinggian 335 meter di atas permukaan laut.
Pesawat Listrik Hemat Biaya
Pengisian daya listrik pesawat X1 selama 27 menit hanya menelan biaya sekitar US$5 atau Rp89 ribu, lebih murah dari harga secangkir kopi di Inggris yang mencapai US$5,4 atau Rp95 ribu. Ini menjadi pencapaian bersejarah dalam industri penerbangan, khususnya di tengah kenaikan harga bahan bakar avtur yang signifikan.
Teknologi mesin propulsi listrik pada pesawat ini diharapkan dapat memangkas biaya operasional penerbangan secara drastis, menjaga industri penerbangan dari fluktuasi harga minyak mentah dunia. Dirancang untuk armada listrik baterai terbesar yang pernah menerbangi angkasa, pesawat bermesin listrik baterai ini menjadi solusi inovatif untuk masa depan penerbangan komersial.
Langkah Menuju Penerbangan Ramah Lingkungan
Penerbangan perdana X1 tersebut diharapkan membuka pintu bagi pengembangan pesawat komersial berbasis listrik. Rencana komersialisasi pesawat ES-30 dijadwalkan pada tahun 2031 dengan potensi pemangkasan biaya operasional lebih dari 40 persen dibandingkan pesawat regional konvensional.
Dengan pengoperasian pesawat listrik, harapan akan penerbangan ramah lingkungan semakin terwujud. Heart Aerospace kini tengah merakit unit pra-produksi ES-30 di pabrik percontohan mereka di Los Angeles, sebagai langkah awal menuju penerbangan masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
