Keterhubungan global saat ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi negara-negara di dunia. Farrell dan Newman (2019) sudah menekankan bahwa aliran keuangan, informasi, dan barang yang menembus batas negara membawa potensi risiko dan instrumen baru untuk menghadapinya. Dua konflik besar di era modern, yakni Perang Ukraina dan Perang Iran, membuktikan betapa rentannya sistem global terhadap konflik regional sekalipun. Dampak perang-perang ini tidak terbatas hanya pada wilayah konflik, namun mempengaruhi stabilitas sektor-sektor vital di seluruh dunia. Perang Ukraina mengganggu distribusi pangan, sedangkan Perang Iran membawa dampak langsung pada pasokan energi global. Kedua kasus menunjukkan bahwa hambatan distribusi kerap lebih mematikan daripada sekadar berkurangnya produksi.
Pengalaman dari Laut Hitam, di mana sebelum invasi, Ukraina menyalurkan lebih dari 90 persen ekspor pertaniannya melalui jalur ini, membuktikan betapa krusialnya simpul-simpul transportasi. Ketika jalur utama terganggu, kapasitas pengiriman lewat jalur alternatif seperti darat ataupun sungai Danube tidak mampu menutupi seluruh kebutuhan ekspor (EPRS, 2022). Dampaknya berjenjang: distribusi tersendat, produksi terganggu, hingga ketahanan pangan negara lain pun ikut melemah. Hal serupa terjadi pada Selat Hormuz saat Perang Iran. Gangguan di simpul ini menyebabkan aliran minyak turun drastis, padahal selat tersebut menyalurkan mayoritas kebutuhan energi dunia. Hanya dengan meningkatkan risiko perjalanan—tanpa perlu menutup selat sepenuhnya—Iran dapat menekan jumlah kapal yang berani melintas, efeknya harga minyak pun melonjak.
Fenomena ini disebut sebagai efek titik cekik atau “chokepoint effect” (Farrell dan Newman, 2019). Dalam jaringan ekonomi modern, terdapat simpul-simpul vital yang jika terganggu, efeknya akan terasa luas, melampaui batas wilayah konflik. Efisiensi yang diraih lewat pemusatan aktivitas di titik-titik strategis selama masa damai dapat berbalik menjadi kerentanan saat terjadi disrupsi. Titik cekik ini tak selalu berupa pelabuhan, selat, atau jalur fisik; kadang berupa sistem keuangan, jaringan data, sistem pembayaran, atau pusat kendali teknologi. Fishman (2025) menekankan bahwa penguasaan atas simpul-simpul strategis ini kini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi perang ekonomi. Sanksi, embargo teknologi, gangguan asuransi, serta pemutusan jaringan pembayaran bisa menghentikan roda ekonomi tanpa perlu kekuatan militer yang nyata.
Dampak dari konflik di Ukraina dan Iran menimbulkan resonansi luas hingga memengaruhi pasar serta operasi negara yang tidak terlibat langsung dalam peperangan tersebut. Perdagangan gandum dan pupuk terganggu karena perang di Laut Hitam, memukul negara-negara pengimpor, termasuk banyak negara di Asia dan Afrika. Sedangkan gangguan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi, menekan biaya produksi dan logistik global—tak terkecuali di Indonesia. Sektor pertahanan, yang amat bergantung pada bahan bakar, logistik, informasi, dan suplai pangan, ikut terdampak, meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik. Ketahanan suatu negara kini tidak hanya diuji oleh ancaman militer terhadap wilayah, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga fungsi vital ketika simpul-simpul global terganggu dari luar.
Artinya, kalkulasi pertahanan Indonesia harus berubah. Tidak cukup hanya mengantisipasi serangan fisik ke wilayah, namun juga memperhitungkan skenario terganggunya pelabuhan, alur transportasi, kabel komunikasi, suplai energi, dan rantai pasok digital yang menopang berbagai fungsi penting. Negeri kepulauan seperti Indonesia, dengan ketergantungan tinggi pada konektivitas antarpulau, menghadapi kerentanan bukan hanya pada arus barang dan energi, tetapi juga data, pembayaran, hingga distribusi pangan. Kesiapsiagaan pertahanan bukan sekadar memperkuat posisi militer, namun juga memastikan ketersediaan cadangan, konektivitas alternatif, dan ketahanan logistik yang mumpuni.
Namun demikian, kemandirian produksi saja tidak serta-merta menghasilkan ketahanan jika distribusi masih tergantung simpul yang rentan. Dengan cadangan stok, jalur alternatif, serta sistem redundansi, ketergantungan global masih bisa dikelola. Indonesia harus mampu memetakan fungsi-fungsi utama yang harus tetap beroperasi, mengidentifikasi simpul-simpul mana yang paling kritis, serta memperkirakan daya tahan operasional bila terjadi gangguan di luar kendali. Langkah konkret yang perlu didorong adalah mengembangkan perencanaan berbasis fungsi. Bukan sekadar bertanya dari mana serangan mungkin datang, tetapi juga memahami rantai vitalisasi—apa yang rawan terhenti, berapa lama proses bisa bertahan, dan bagaimana memulihkan operasi jika pusatnya lumpuh.
Kisah ini mengingatkan bahwa kerentanan bukan sekadar ancaman abstrak. Seperti nasib anak Indonesia yang bercita-cita tinggi namun terkendala keterbatasan akses, sistem nasional pun bisa stagnan manakala simpul vital terganggu. Memastikan keterjangkauan akses, keberlanjutan distribusi, dan peluang adaptasi adalah langkah penting membangun masa depan yang lebih tahan guncangan—baik di sektor pertahanan maupun di bidang pendidikan dan ekonomi secara luas.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas
