Mi instan tidak memiliki batas konsumsi resmi yang menetapkan berapa bungkus boleh dimakan dalam seminggu atau sebulan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menjelaskan, kebutuhan gizi dan kondisi kesehatan setiap orang berbeda sehingga tidak tepat menetapkan satu angka yang berlaku untuk semua orang.
Dengan harga relatif terjangkau, mudah ditemukan, praktis diolah, serta tersedia dalam beragam rasa, mi instan menjadi bagian dari pola makan sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia. Ada yang mengonsumsinya beberapa kali dalam sepekan, bahkan menjadikannya menu harian. Namun, frekuensi tersebut perlu diperhatikan karena persoalan utamanya bukan hanya jumlah bungkus yang dikonsumsi.
Perhatikan total asupan natrium
Kemenkes menyebut mi instan sebagai salah satu makanan yang perlu dicermati kandungan garam atau natriumnya. Natrium dapat berasal dari garam maupun bahan tambahan pangan yang digunakan untuk menghasilkan rasa gurih.
Setiap produk mi instan dapat memiliki kandungan natrium yang berbeda. Karena itu, masyarakat disarankan memperhatikan informasi nilai gizi pada label kemasan, terutama jumlah natrium dalam satu porsi. Asupan dari mi instan juga perlu dilihat bersama makanan lain yang dikonsumsi sepanjang hari.
Risiko mendapatkan natrium berlebih dapat meningkat apabila mi instan dikonsumsi bersamaan dengan makanan olahan, makanan kemasan, makanan cepat saji, atau lauk yang banyak menggunakan garam dan saus. Dengan kata lain, jumlah natrium yang masuk ke tubuh merupakan akumulasi dari seluruh makanan, bukan hanya dari satu bungkus mi.
Selain cenderung tinggi sodium, makanan instan juga disebut Kemenkes memiliki kandungan serat yang rendah. Jika terlalu sering dikonsumsi, pola makan tersebut dapat berkontribusi terhadap asupan energi dan zat gizi yang kurang seimbang.
Mi instan sebaiknya bukan menu harian
Tidak adanya batas angka resmi berarti seseorang tidak otomatis memiliki patokan seperti dua atau tiga bungkus mi instan per minggu. Penentuan konsumsi perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan gizi, ukuran porsi, kandungan natrium pada produk, serta variasi makanan lain dalam menu harian.
Semakin sering mi instan dimakan, semakin besar pula kemungkinan asupan natrium menjadi tinggi, terutama jika pilihan makanan lain pada hari yang sama juga mengandung banyak garam. Frekuensi yang terlalu sering juga dapat membuat pola makan kurang beragam dan tidak memenuhi kebutuhan zat gizi secara seimbang.
Atas pertimbangan tersebut, mi instan lebih tepat ditempatkan sebagai makanan yang dikonsumsi sesekali, bukan sebagai menu utama setiap hari. Masyarakat perlu memperhatikan label kemasan dan keseluruhan pola makan untuk menilai seberapa besar kontribusi mi instan terhadap asupan natrium harian.
