11.9 C
Munich

KNKT: Penanganan Kedaruratan di Kapal Belum Maksimal

Harus dibaca

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai kesiapan penanganan keadaan darurat di kapal roll-on/roll-off (roro) masih belum memadai. Latihan yang seharusnya membentuk kemampuan awak menghadapi kecelakaan, menurut KNKT, masih sering dilakukan sekadar memenuhi formalitas.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan kondisi tersebut dapat memperburuk dampak ketika kecelakaan terjadi. Penilaian itu disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan dipantau di Jakarta, Jumat (18/9) malam.

“Latihan (penanganan kedaruratan) di kapal itu masih sebatas formalitas belum menjadi satu keharusan,” kata Soerjanto.

Latihan harus mengungkap kelemahan

Berdasarkan hasil investigasi dan praktik di lapangan, Soerjanto menyebut penanganan keadaan darurat di kapal masih belum maksimal. Karena itu, pelatihan tanggap darurat harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar kegiatan untuk membuktikan bahwa prosedur telah dijalankan.

Ia menjelaskan, tujuan latihan bukan semata-mata meraih keberhasilan dalam simulasi. Latihan justru harus digunakan untuk menemukan kekurangan, sehingga prosedur dan kemampuan awak dapat diperbaiki sebelum menghadapi keadaan sebenarnya.

“Jadi latihan tanggap darurat bukan ditunjukkan untuk keberhasilan tapi untuk mengetahui kelemahan atau kekurangan agar dapat dilakukan penyempurnaan,” ujarnya.

KNKT, kata Soerjanto, pernah menggelar simulasi tanggap darurat di kapal. Dari kegiatan tersebut, ditemukan sejumlah kendala dalam simulasi kebakaran, penggunaan jaket pelampung, serta keterbatasan kapal penolong.

Kendala saat simulasi kebakaran dan evakuasi

Pada simulasi kebakaran, petugas mengalami kesulitan menggunakan selang hidran. Peralatan tersebut tidak dapat digunakan dengan baik karena terdapat sejumlah hambatan, terutama ketika kapal berada dalam kondisi penuh muatan.

Menurut Soerjanto, penggunaan pakaian antiapi juga tidak bisa dilakukan secara cepat. Prosesnya membutuhkan waktu sekitar lima hingga delapan menit dan harus dilakukan oleh dua orang.

“Kenapa banyak gagal ketika kebakaran, hidrannya tidak berfungsi dengan baik karena memang ternyata setelah kita praktekkan banyak hambatan,” katanya.

Hambatan lain terlihat ketika awak kapal maupun peserta nonawak diminta mengenakan life jacket atau jaket pelampung. Berdasarkan pengamatan KNKT setelah pengarahan, proses pemakaiannya memerlukan waktu sekitar tiga sampai enam menit.

“Kita amati setelah kita lakukan briefing terus kita minta teman-teman baik kru kapal maupun yang bukan kru kapal ternyata rata-rata mereka menggunakan life jacket antara tiga menit sampai enam menit,” ujar Soerjanto.

Temuan-temuan dalam simulasi tersebut menjadi gambaran bahwa kesiapan menghadapi keadaan darurat tidak cukup diukur dari pelaksanaan latihan. Menurut KNKT, latihan perlu dilakukan secara sungguh-sungguh agar hambatan penggunaan peralatan dan proses evakuasi dapat diketahui serta diperbaiki.

Source link

Berita Terbaru