10.5 C
Munich

Apakah Makan Mie Instan Setiap Hari Aman? Ini Kata Dokter

Harus dibaca

Mi instan kerap menjadi pilihan ketika waktu memasak terbatas. Namun, kepraktisan dan harga yang relatif terjangkau tidak berarti makanan ini aman dijadikan menu setiap hari. Dokter dan ahli gizi mengingatkan, frekuensi konsumsi serta makanan pendamping perlu diperhatikan karena mi instan cenderung tinggi natrium, lemak, dan energi, tetapi relatif terbatas dalam serat, vitamin, mineral, serta protein.

Natrium menjadi perhatian utama

Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, Juwalita Surapsari, mengatakan mi instan tetap boleh dikonsumsi, tetapi tidak setiap hari. Menurut dia, konsumsi mi perlu disesuaikan dengan makanan lain yang disantap pada hari yang sama.

“Kita boleh-boleh saja mengonsumsi produk ini namun tidak setiap hari dan harus memperhitungkan makanan lainnya,” kata Juwalita kepada ANTARA.

Salah satu pertimbangannya adalah kandungan garam atau natrium. Juwalita mengingatkan agar mi instan tidak dikombinasikan dengan makanan olahan lain yang juga cenderung tinggi garam, seperti sosis atau bakso.

Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menyebut mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih dari 1.000 miligram per bungkus. Dalam keterangan kepada ANTARA pada Februari 2026, ia menjelaskan bahwa jumlah tersebut sudah mengambil porsi besar dari batas asupan natrium harian.

Asupan natrium yang terlalu tinggi secara terus-menerus perlu diwaspadai, terutama oleh orang dengan tekanan darah tinggi atau kondisi tertentu yang sensitif terhadap natrium. Karena itu, label kandungan gizi pada kemasan penting diperiksa, khususnya ketika seseorang telah mengonsumsi makanan tinggi garam lainnya.

Mi instan tetap dihitung sebagai sumber karbohidrat

Selain soal natrium, mi instan tidak sebaiknya diperlakukan sebagai satu-satunya komponen makanan. Kepala Instalasi Gizi dan Produksi Makanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Fitri Hudayani, menjelaskan bahwa mi instan termasuk kelompok makanan pokok, sama seperti nasi, roti, bihun, umbi-umbian, dan sereal.

Fitri menyebut satu bungkus mi instan tanpa minyak memiliki nilai gizi yang kurang lebih setara dengan 150 gram nasi. Artinya, orang yang makan mi instan perlu memperhitungkan kembali porsi makanan pokok lain agar asupan energi dan karbohidrat tidak berlebihan.

Persoalannya bukan semata-mata apakah mi instan boleh dimakan, melainkan bagaimana makanan tersebut ditempatkan dalam pola makan secara keseluruhan. Mi instan juga tidak dapat menggantikan kebutuhan tubuh akan serat, vitamin, mineral, dan protein.

Cara membuat sajian lebih lengkap

Jika ingin mengonsumsi mi instan, sajian tersebut dapat dilengkapi sayuran seperti sawi, bayam, wortel, atau brokoli. Tambahan telur, tahu, tempe, maupun sumber protein lain juga dapat membantu membuat komposisi makanan lebih lengkap.

Dokter spesialis gizi klinik dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Luciana Sutanto, mengingatkan agar jumlah bumbu yang digunakan tidak berlebihan.

“Jika bumbu yang dimasukkan jumlah atau kadarnya berlebihan … tentu akan menimbulkan masalah kesehatan,” kata Luciana kepada ANTARA.

Ia juga menyarankan mi dimasak sesuai petunjuk pada kemasan, kemudian disajikan bersama sayuran dan sumber protein. Dengan memperhatikan porsi, frekuensi, bumbu, serta makanan lain yang dikonsumsi, mi instan dapat ditempatkan sebagai pilihan sesekali, bukan menu harian.

Source link

Berita Terbaru