Harman International, perusahaan induk JBL, memfasilitasi penghapusan lebih dari 500.000 tautan produk ilegal dari berbagai marketplace di kawasan Asia Pasifik sepanjang 2025. Sekitar 300.000 tautan di antaranya menawarkan produk palsu, sedangkan tautan lainnya dinilai melanggar hak kekayaan intelektual (HAKI) milik Harman.
Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan platform e-commerce, otoritas bea cukai, dan aparat penegak hukum di sejumlah negara. Harman menyebut langkah ini ditujukan untuk mengidentifikasi serta menghentikan peredaran barang yang menggunakan merek perusahaan secara ilegal sebelum sampai ke konsumen.
Penindakan berlanjut di sejumlah negara
General Manager and Vice President Consumer Audio Harman Asia Pacific Grace Koh mengatakan pemberantasan produk palsu diperlukan untuk melindungi konsumen sekaligus menjaga reputasi JBL. Merek audio tersebut akan memasuki usia 80 tahun pada 2026.
“Selama 80 tahun, JBL telah meraih kepercayaan konsumen di seluruh dunia dengan berfokus pada inovasi, performa, dan kualitas. Produk palsu tidak hanya melanggar Hak Kekayaan Intelektual kami, tetapi juga merusak pengalaman yang diharapkan konsumen dari JBL,” ujar Koh.
Menurut dia, Harman akan melanjutkan kolaborasi dengan otoritas bea cukai, aparat penegak hukum, dan platform e-commerce di kawasan Asia Pasifik. Kerja sama itu diarahkan untuk memutus distribusi produk palsu dan membantu konsumen memperoleh produk JBL asli.
Penindakan berlanjut pada enam bulan pertama 2026. Di Korea Selatan, operasi bersama otoritas setempat menyita produk JBL Flip 6 palsu. Operasi terpisah di negara yang sama juga menemukan dan menyita JBL Charge 6 palsu.
Otoritas Thailand turut menghentikan peredaran produk dengan nama “JBL Max 33”, yang menurut Harman merupakan nama produk fiktif. Dalam operasi lain di negara tersebut, pihak berwenang menyita produk palsu yang menggunakan nama JBL Go 4, JBL Clip, serta lini headphone JBL Tune.
Harman menyatakan rangkaian operasi itu merupakan bagian dari pemantauan untuk menemukan produk palsu sebelum beredar lebih jauh. Selain penindakan, perusahaan menjalankan kampanye edukasi antipemalsuan melalui media sosial di kawasan Asia Pasifik.
Ciri produk yang perlu diwaspadai
Melalui kampanye tersebut, konsumen diberi informasi mengenai risiko produk palsu dan cara memeriksa keaslian perangkat. Harman menyarankan pembelian dilakukan melalui retailer resmi atau official store JBL.
Harga yang jauh lebih rendah dibandingkan harga normal dan identitas penjual yang tidak terverifikasi menjadi sejumlah tanda yang perlu diwaspadai. Produk JBL asli, menurut Harman, melewati pengujian untuk memenuhi standar kualitas, performa, dan keselamatan perusahaan. Produk tiruan berpotensi memakai komponen dengan kualitas berbeda serta tidak melalui pengendalian mutu yang sama.
Perbedaan juga terdapat pada keterhubungan perangkat dengan ekosistem perangkat lunak JBL. Koh mengatakan aplikasi resmi JBL memungkinkan konsumen mempersonalisasi pengaturan EQ, menggunakan fitur seperti stereo pairing dan Playtime Boost, serta mengakses berbagai optimasi perangkat.
“Pengalaman seperti ini tidak dapat direplikasi dengan baik oleh produk tiruan, sehingga makin menegaskan pentingnya memilih produk asli untuk mendapatkan pengalaman JBL yang sepenuhnya,” kata Koh.
JBL didirikan James B. Lansing pada 1946. Merek tersebut kini digunakan pada beragam produk dan sistem audio, termasuk perangkat konsumen, kebutuhan otomotif, dan hiburan. Peringatan 80 tahun JBL pada 2026 berlangsung ketika marketplace menjadi salah satu kanal utama yang dipantau dalam pemberantasan peredaran produk ilegal.
