Fungsi Freeze: Mengatasi Stres Kronis dengan Bijak

Jangan Lewatkan

Memasuki tahun baru, banyak orang menggunakan momen ini sebagai kesempatan untuk mencapai kebahagiaan. Mulai dari membuat resolusi, merencanakan berbagai aktivitas, dan bahkan berupaya untuk memperbaiki hubungan sosial yang mungkin terputus sebelumnya. Namun, bagi sebagian orang, pergantian tahun bukannya membawa semangat baru, melainkan kelelahan, tekanan, dan hilangnya energi.

Kesibukan yang meningkat, tekanan untuk menciptakan momen yang ‘sempurna’, dan banyaknya tugas yang menumpuk seringkali berujung pada stres yang menguras fokus dan motivasi. Di media sosial, keadaan ini kemudian dikenal dengan istilah functional freeze. Istilah ini populer di platform-platform seperti TikTok untuk menggambarkan kondisi mati rasa secara emosional dan rendahnya motivasi, meskipun tidak resmi dalam psikologi.

Tidak sedikit ahli memperdebatkan tentang apakah functional freeze merupakan diagnosis klinis yang sah, atau hanya fenomena sosial semata. Namun, penting untuk memperhatikan bahwa banyak orang mengalami perasaan kewalahan, terjebak, dan kehilangan daya tahan di tengah lingkungan yang penuh tekanan. Meskipun masih menjalani aktivitas harian, orang yang mengalami functional freeze merasakan ketidakmampuan untuk menemukan motivasi atau semangat hidup.

Menyebutkan bahwa seseorang sedang ‘kehilangan motivasi’ mungkin terdengar sepele, namun mengatakan bahwa seseorang sedang mengalami functional freeze bisa memberikan pemahaman yang lebih dalam terhadap pengalaman tersebut. Hal ini memungkinkan individu untuk mengidentifikasi dan mencari solusi yang sesuai. Adanya bahasa yang bermakna untuk menggambarkan kondisi ini dapat membantu individu untuk lebih mudah memahami dan mengatasinya.

Gambaran tentang functional freeze yang beragam di media sosial menggambarkan betapa kompleksnya kondisi ini. Sementara beberapa orang tampak terdiam tanpa aktivitas, yang lain terus-menerus mencari distraksi. Pada dasarnya, kondisi ini terjadi akibat tekanan hidup sehari-hari yang terasa berlebihan dan banjir informasi yang terus-menerus. Berbagai faktor ini membuat otak selalu dalam mode waspada, sehingga sulit untuk merasa tenang dan termotivasi.

Untuk keluar dari functional freeze, para ahli merekomendasikan langkah-langkah tertentu. Pertama, penting untuk memahami akar masalah yang mendasari kondisi tersebut. Kemudian, menghadapi masalah tersebut satu per satu. Hal ini bisa melibatkan berbagai tindakan seperti tidur yang cukup, aktivitas fisik yang merangsang sistem saraf, atau berkonsultasi dengan terapis jika diperlukan. Yang terpenting, individu harus mengingat bahwa mereka tetap memiliki kontrol atas diri mereka sendiri, dan bahwa pulih dari kondisi ini memungkinkan dengan adanya dukungan yang tepat.

Source link

Semua Berita

Berita Terbaru