30.3 C
Munich

Review Musikal Bukan Cinta Galih/Ratna: Komedi Romantis Unik

Harus dibaca

Musikal “Bukan Cinta Galih/Ratna” Hadirkan Romansa Klasik dengan Sentuhan Komedi

Cerita Galih dan Ratna kembali dipanggungkan, kali ini lewat format musikal yang mencoba membaca ulang kisah klasik itu dengan lebih segar. Bertajuk Bukan Cinta Galih/Ratna, pertunjukan ini dijadwalkan tampil di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Sabtu, 7 Februari 2026. Alih-alih sekadar mengulang romansa yang sudah akrab di ingatan penonton, musikal ini menawarkan pendekatan yang lebih ringan, jenaka, dan penuh kejutan.

Romansa Lama, Dibaca dengan Bahasa Baru

Sutradara Mikail Edwin Rizki menegaskan bahwa musikal ini dirancang bukan hanya untuk memanjakan mata, tetapi juga menjaga ritme cerita agar tetap hidup dari awal hingga akhir. Di dalamnya ada plot twist, unsur komedi, dan dinamika emosi yang disusun untuk membuat penonton terus mengikuti alur. Dengan gaya penceritaan yang lebih dekat dengan generasi muda, kisah Galih dan Ratna tidak tampil sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai cerita yang bisa dibaca ulang dari sudut pandang berbeda.

Pendekatan ala Broadway menjadi salah satu daya tarik utama pertunjukan ini. Dialog dibuat akrab, humornya disisipkan untuk memecah suasana, sementara musik berfungsi sebagai penggerak emosi. Alih-alih hadir sebagai selingan, lagu-lagu dalam musikal ini justru menjadi bagian penting yang mengalir bersama konflik dan perasaan para tokohnya.

Lagu Ikonik Jadi Pengikat Emosi

Tim produksi Kinarya GSP yang bekerja sama dengan Sthana Pentas 6 menyiapkan dua pertunjukan pada hari yang sama. Sejumlah lagu ikonik seperti “Galih dan Ratna”, “Puspa Indah”, dan “Gita Cinta” tetap dipertahankan sebagai benang merah emosi cerita. Kehadiran lagu-lagu itu diharapkan memberi lapisan nostalgia bagi penonton yang sudah mengenal kisah asalnya, sekaligus membuka pintu bagi penonton baru untuk menikmati kisahnya dari awal.

Di balik format musikalnya, Bukan Cinta Galih/Ratna juga menyorot kehidupan remaja dengan segala kegelisahan, kebebasan, dan romantismenya. Cerita ini tidak berhenti pada hubungan dua tokoh utama, tetapi juga menangkap suasana zaman yang membentuk cara mereka memandang cinta dan pilihan hidup. Dari panggung TIM, kisah lama itu diberi napas baru tanpa kehilangan akar emosinya.

Source link

Berita Terbaru