Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari, menekankan pentingnya strategi antisipatif dalam menghadapi gangguan transportasi massal di sektor pariwisata, terutama dalam kondisi luar biasa atau force majeure. Azril mengatakan bahwa dampak dari gangguan tersebut dapat dikurangi jika pihak akomodasi memberikan kompensasi kepada pengunjung atas pembatalan atau keterlambatan dalam kedatangan di fasilitas yang sudah dipesan. Upaya untuk meminimalkan kerugian finansial dan menjaga reputasi sektor pariwisata harus dilakukan dengan manajemen risiko yang kuat untuk menghadapi situasi yang tak terduga di masa depan, seperti gangguan iklim dan krisis energi.
Rekomendasi ini berlaku untuk seluruh subsektor pariwisata, termasuk hotel, destinasi wisata, dan perjalanan bisnis. Gangguan transportasi massal dapat menyebabkan gangguan dalam agenda wisatawan dan memicu permintaan pengembalian dana paket tur atau perjalanan dinas. Azril juga menekankan pentingnya koordinasi yang kuat antara pemerintah, asosiasi pariwisata, dan pihak transportasi untuk mengantisipasi dini gangguan dan menyesuaikan prosedur operasional guna meminimalkan dampak terhadap pengunjung.
Menurut laporan media perjalanan Travel and Tour World, terdapat 4.284 kasus keterlambatan dan 95 pembatalan penerbangan di beberapa bandara internasional Asia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta. Meskipun demikian, pihak pengelola bandara menegaskan bahwa data operasional resmi menunjukkan tidak adanya gangguan yang signifikan. Assistant Deputy Communication and Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, menjelaskan bahwa semua layanan tetap berjalan sesuai prosedur dengan koordinasi intensif bersama maskapai dan pelayanan penumpang tetap dijaga.
Pihak Bandara Soekarno-Hatta juga mengimbau masyarakat dan media untuk merujuk pada data resmi terkait operasional penerbangan dan bukan hanya mengandalkan laporan yang belum diverifikasi. Informasi resmi dapat diperoleh melalui call center Bandara 172 atau media komunikasi resmi bandara. Dalam menghadapi situasi gangguan transportasi massal, keterlibatan semua pihak terkait dan manajemen risiko yang kuat adalah kunci dalam menjaga keberlangsungan sektor pariwisata di masa depan.
