IABI Soroti Kesalahan Fatal Pendaki Gunung Dukono
Jakarta, CNN Indonesia — Insiden erupsi maut Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara pada 8 Mei 2026 mengundang perhatian tajam dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI). Mereka menilai tindakan menerobos zona bahaya demi kepuasan adrenalin dan konten media sosial sebagai kenekatan fatal yang mempertaruhkan nyawa. Anggota IABI, Daryono, menegaskan bahwa insiden tersebut menjadi pengingat bahwa peringatan otoritas bukanlah sekadar formalitas, melainkan garis tegas antara hidup dan mati.
Kesalahan Fatal Pendaki
Daryono menekankan bahwa mengabaikan larangan pendakian hanya untuk kepuasan sesaat adalah sebuah kesalahan besar. Saat gunung api menunjukkan aktivitas ekstrem, seperti kolom abu setinggi 10.000 meter dan muntahan lava pijar, tidak ada teknologi atau keberanian manusia yang mampu menandingi kecepatan aliran piroklastik. Menurutnya, melintasi batas keamanan adalah membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Daryono juga membahas faktor utama penyebab kematian dalam bencana gunung api, termasuk awan panas, lontaran material pijar, aliran lahar, hingga pelanggaran radius bahaya dan penolakan evakuasi. IABI mencatat sejarah tragedi erupsi gunung api dunia sebagai pelajaran berharga bagi para petualang. Mulai dari Gunung Pelée pada 1902 yang merenggut ribuan nyawa hingga kasus terbaru di Gunung Marapi pada 2023 yang menelan korban jiwa.
Peringatan dari PVMBG
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan radius bahaya sejauh empat kilometer di Gunung Dukono sejak Desember 2024 dan menutup jalur pendakian pada April 2026. Meskipun demikian, terdapat 20 pendaki di lokasi saat erupsi terjadi. Dari jumlah tersebut, 17 berhasil dievakuasi dengan selamat, namun tiga lainnya meninggal dunia. Mereka diidentifikasi sebagai Timo dan Sahnas dari Singapura, serta seorang Warga Negara Indonesia.
Daryono menekankan pentingnya untuk menghormati batas yang ditetapkan otoritas demi keselamatan bersama. Kepatuhan terhadap zona bahaya adalah kunci utama untuk keselamatan. Itulah yang harus dijadikan puncak perhatian dalam setiap petualangan, untuk menghindari risiko yang fatal.
