Krisis Identitas Bandara Internasional Can Tho
Jakarta, CNN Indonesia — Bandara Internasional Can Tho di Vietnam mengalami krisis identitas karena tidak memiliki rute penerbangan internasional reguler. Meski berstatus internasional, bandara ini sepi dari aktivitas lintas negara sepanjang tahun 2026. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota Can Tho.
Kekecewaan Pemerintah Kota Can Tho
Dalam pertemuan dengan Airports Corporation of Vietnam (ACV), Ketua Komite Rakyat Can Tho, Truong Canh Tuyen, menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi Bandara Internasional Can Tho. Menurutnya, memiliki bandara internasional tanpa layanan penerbangan internasional adalah hal yang “sangat menyedihkan” bagi daerah tersebut.
Pihak ACV mencatat bahwa meskipun jumlah turis internasional yang berkunjung ke Can Tho sudah melampaui level sebelum pandemi COVID-19, peningkatan tersebut tidak tercermin dalam aktivitas bandara. Banyak turis yang lebih memilih datang melalui jalur darat ketimbang penerbangan langsung ke Can Tho.
Langkah Strategis untuk Menghidupkan Kembali Bandara
Untuk menghidupkan kembali Bandara Internasional Can Tho, ACV mengusulkan beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah dengan fokus menghubungkan kembali penerbangan ke beberapa negara seperti Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Jepang, China, dan Taiwan. Selain itu, memanfaatkan pasar besar turis China yang menggunakan penerbangan carter juga menjadi langkah yang ditekankan oleh ACV.
Selain sebagai destinasi wisata, Can Tho juga akan diproyeksikan sebagai titik transit bagi turis internasional menuju destinasi populer lainnya di Vietnam. Meski demikian, potensi besar terlihat dalam sektor kargo di sekitar Bandara Internasional Can Tho.
Untuk merealisasikan berbagai target tersebut, Pemerintah Kota Can Tho berencana mengirimkan delegasi promosi investasi dan pariwisata ke pasar-pasar utama di Asia. Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang bagi bandara tersebut untuk melayani penerbangan internasional dengan lebih baik.
