Belanda Alami Musim Panas Paling Terik Sejak 1901
Istanbul (ANTARA) – Musim panas di Belanda pada tahun 2026 menjadi yang paling terik sejak dilakukan pengukuran suhu pada tahun 1901, menurut data dari Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI) seperti dilaporkan oleh media lokal pada Kamis.
Suhu rata-rata selama tiga bulan terakhir di stasiun utama KNMI di De Bilt mencapai 19,3 derajat Celsius, melebihi rekor sebelumnya pada tahun 2018 sebesar 18,9 derajat Celsius menurut laporan yang diterbitkan oleh lembaga penyiaran publik Belanda, NOS.
Musim Panas yang Ekstrim
Musim panas tahun ini ditandai dengan gelombang panas yang berulang, malam yang sangat hangat, serta kekeringan berkepanjangan yang telah dirasakan oleh warga Belanda.
KNMI bahkan mengeluarkan peringatan merah pertama dalam sejarahnya untuk kondisi panas ekstrem pada bulan Juni lalu. Catatan suhu di atas 35 derajat Celsius pada sejumlah hari tertentu menjadi gejala yang semakin umum.
Menurut pakar iklim KNMI, Peter Siegmund, kondisi musim panas yang terjadi saat ini terbilang sangat ekstrim dibandingkan dengan sejarah sebelumnya. Bahkan, kota Maastricht di Belanda selatan mengalami suhu malam yang sangat parah dengan suhu di atas 22 derajat Celsius selama tiga malam berturut-turut untuk pertama kalinya dalam catatan pengukuran.
Dampak Pemanasan Global
Berdasarkan perhitungan Siegmund, musim panas dengan suhu yang tercatat saat ini diperkirakan dapat terjadi sekali dalam lima tahun dalam kondisi iklim saat ini. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa dampak pemanasan global semakin terasa di berbagai belahan dunia.
Siegmund juga menekankan bahwa kebijakan iklim yang efektif masih dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap kenaikan suhu dalam jangka panjang. Perbedaan signifikan dalam suhu pada tahun 2050 dapat terjadi apabila tindakan konkret tidak segera dilakukan.
Seiring dengan terus berlangsungnya pemanasan global, prediksi menunjukkan bahwa kondisi musim panas seperti tahun 2026 di Belanda akan semakin sering terjadi di masa depan.
