16 C
Munich

Fakta Tentang Hipertensi: Penyakit Nomor 2 yang Perlu Anda Ketahui

Harus dibaca

Gempa NTT Tingkatkan Kasus Hipertensi

Penyakit hipertensi menjadi salah satu penyakit yang dilaporkan terjadi secara signifikan di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa hipertensi merupakan penyakit kedua terbanyak setelah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah tersebut. Sebanyak 4.686 kasus hipertensi tercatat dalam rentang waktu 15-25 Agustus 2026.

Tingginya Kasus Hipertensi Pasca Gempa

Kenaikan jumlah kasus hipertensi setelah gempa NTT menarik perhatian banyak pihak. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya kaitan antara gempa bumi dan peningkatan tekanan darah pada individu yang terdampak. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Hypertension pada tahun 1995 menemukan bahwa tekanan darah pasien hipertensi meningkat secara signifikan beberapa minggu setelah gempa Hanshin-Awaji di Jepang.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg. Studi lain yang mengamati pasien hipertensi di sekitar episentrum gempa menemukan bahwa tekanan darah meningkat sekitar 11/6 mmHg pada hari kejadian gempa dan tetap tinggi selama seminggu sebelum kembali ke kondisi awal dalam empat minggu.

Reaksi Tubuh Terhadap Gempa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh manusia merespons gempa dengan peningkatan tekanan darah yang signifikan dalam tempo yang relatif singkat. Hal ini menegaskan adanya hubungan antara stres akibat bencana alam dengan perubahan tekanan darah pada individu yang terpapar dampak gempa.

Di samping hipertensi, Kementerian Kesehatan juga mencatat beberapa kasus lain seperti myalgia, trauma, diare, diabetes, hingga low back pain di wilayah terdampak gempa NTT. Gempa berkekuatan M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 di wilayah Flores telah menyebabkan sejumlah gempa susulan dengan kekuatan bervariasi.

Source link

Berita Terbaru