11.9 C
Munich

Kunjungan Xi Dorong Hubungan Konstruktif China-AS

Harus dibaca

Kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat pada 23–25 September 2026 dipersiapkan sebagai momentum untuk memperkuat hubungan bilateral yang konstruktif dan berlandaskan stabilitas strategis. Xi dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump untuk membahas hubungan China-AS serta isu-isu utama terkait perdamaian dan pembangunan dunia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing akan bekerja sama dengan Washington untuk memperluas dimensi hubungan kedua negara. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Beijing, Senin (21/9).

“China akan bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memperkaya dimensi hubungan konstruktif China-AS yang berlandaskan stabilitas strategis,” kata Guo.

Pertukaran kunjungan kepala negara

Kunjungan Xi berlangsung sekitar empat bulan setelah Trump melakukan lawatan ke Beijing pada 13–15 Mei 2026. Dalam kunjungan tersebut, kedua negara sepakat menjaga stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan serta memperluas kerja sama praktis di berbagai bidang. Trump juga datang bersama sejumlah CEO perusahaan Amerika Serikat.

Menurut Guo, diplomasi di tingkat kepala negara memiliki peran yang tidak tergantikan dalam memberikan arah strategis bagi hubungan China-AS. Ia menyebut pertukaran kunjungan kedua presiden dalam kurun waktu setengah tahun sebagai tonggak penting.

“China dan AS dapat memperkuat dialog dan kerja sama serta mengelola perbedaan secara tepat demi memberikan manfaat lebih besar bagi rakyat kedua negara dan berkontribusi lebih lanjut terhadap perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran dunia,” ujar Guo.

Dalam kunjungan mendatang, Xi dan Trump akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam mengenai sejumlah persoalan bilateral. Pembahasan juga akan mencakup isu global yang berkaitan dengan perdamaian dan pembangunan.

Isu logam tanah jarang dan rantai pasok

Meski agenda hubungan ekonomi menjadi salah satu perhatian, Guo tidak memberikan jawaban tegas ketika ditanya apakah China akan memulihkan distribusi logam tanah jarang atau rare earth. Pemulihan distribusi komoditas strategis tersebut sebelumnya disebut telah disepakati dalam pertemuan puncak Xi dan Trump di Beijing.

Guo menyatakan China berkomitmen menjaga keamanan dan stabilitas rantai industri serta rantai pasok global untuk mineral strategis. Ia meminta China dan AS melaksanakan kesepahaman yang telah dicapai kedua pemimpin dan mempertahankan pertumbuhan yang stabil dalam hubungan ekonomi serta perdagangan.

Namun, ia menegaskan pembatasan ekspor logam tanah jarang, termasuk ke Jepang, dilakukan berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku. China, kata Guo, melarang ekspor barang dengan kegunaan ganda kepada pengguna militer Jepang atau untuk kepentingan militer negara tersebut. Kebijakan itu juga mencakup barang yang dinilai dapat meningkatkan kemampuan militer Jepang.

China menyatakan kebijakan tersebut bertujuan mencegah remiliterisasi Jepang dan upaya negara itu memiliki senjata nuklir. Guo menegaskan posisi Beijing untuk menjaga stabilitas rantai pasok mineral strategis global tidak berubah.

Perundingan ekonomi dan teknologi AI

Menjelang pertemuan Xi dan Trump, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York, Minggu (20/9). Bessent didampingi Wakil Dagang AS Jamieson Greer.

Dalam perundingan itu, AS dan China sepakat membentuk mekanisme pembahasan isu-isu pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Bessent mengatakan Washington ingin mengelola risiko pengembangan AI, termasuk kemungkinan munculnya agen AI yang tidak terkendali, ancaman siber dari aktor non-negara, serta potensi pemanfaatan AI untuk menciptakan senjata biologis.

Melalui platform X, Bessent menyebut pembicaraannya dengan He membantu membangun dasar bagi pertemuan Trump dan Xi untuk memajukan kepentingan ekonomi AS serta menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat Amerika Serikat.

Source link

Berita Terbaru