Rasa aman dalam hubungan dengan orang tua membantu anak memahami lingkungan, mengenali dirinya, serta belajar mengekspresikan emosi dan berkomunikasi. Perasaan tersebut tidak selalu disampaikan melalui ucapan. Pada banyak anak, kenyamanan justru terlihat dari kebiasaan dan cara mereka berinteraksi setiap hari.
Dikutip dari Raising Children, anak mengenal dunia melalui hubungan dengan orang tua, keluarga, dan pengasuh. Tangisan, tawa, pertanyaan, maupun perilaku lain menjadi bentuk komunikasi yang kemudian mendapat respons dari orang dewasa. Respons yang hangat terhadap kebutuhan anak dapat membangun ikatan kuat dan membuat anak lebih percaya diri mengeksplorasi lingkungan.
Tanda anak merasa aman bersama orang tua
Berikut sejumlah perilaku yang dapat menunjukkan anak memiliki hubungan yang nyaman dan aman dengan orang tuanya.
1. Mengungkapkan rasa sayang secara spontan. Anak yang tidak ragu mengatakan “Aku sayang Bunda”, duduk berdekatan, atau menunjukkan perhatian tanpa diminta dapat memiliki ikatan yang kuat dengan orang tua. Menurut Maureen Healy, pakar tumbuh kembang anak dan penulis The Emotionally Healthy Child, kasih sayang yang ditunjukkan secara spontan menandakan adanya rasa aman dalam hubungan tersebut.
2. Sering tersenyum saat berinteraksi. Tatapan yang diikuti senyum dan ekspresi gembira bisa menjadi sinyal bahwa anak merasa tenteram. Orang tua dapat meresponsnya dengan senyuman, pelukan, atau sentuhan hangat. Respons tersebut membantu anak memahami bahwa upaya komunikasinya diterima.
3. Mencari kepastian saat menghadapi hal baru. Anak yang aman bukan berarti tidak pernah takut atau ragu. Ketika bertemu orang baru atau berada di tempat yang belum dikenal, mereka mungkin melihat kepada orang tua atau mengajukan pertanyaan untuk memastikan situasi tersebut aman.
Psikolog klinis Michael Mintz mengatakan, balita cenderung memperhatikan reaksi orang tua ketika menghadapi situasi baru. “Pada masa balita, anak-anak cenderung menanyakan orang tua mereka dalam situasi baru, misalnya ketika bertemu orang baru. Respons orang tua menjadi panduan bagi anak,” ujar Mintz.
4. Berinisiatif memeluk. Anak yang spontan mendekat, memeluk, atau senang bermanja-manja, termasuk menjelang tidur, sedang mencari kedekatan fisik. Perilaku itu dapat menjadi bentuk kasih sayang sekaligus cara memperoleh rasa aman.
5. Membuat atau memberikan sesuatu. Gambar, prakarya, atau benda sederhana yang dibuat sendiri bisa menjadi ungkapan perhatian. Bagi anak, memberikan hasil karyanya kepada orang tua merupakan salah satu cara menunjukkan rasa sayang, meski benda tersebut tidak bernilai mahal.
Kedekatan terlihat dari cara anak mencari dukungan
6. Senang berbagi cerita. Anak yang nyaman biasanya mau menceritakan pengalaman, hal yang disukai, atau sesuatu yang membuatnya penasaran. Ceritanya dapat berupa pengalaman bermain, kejadian di sekolah, maupun hal menarik yang dilihatnya. Mendengarkan dengan penuh perhatian dan menunjukkan ketertarikan dapat membangun kepercayaan serta memperkuat ikatan.
7. Datang ketika merasa sedih, takut, kesal, atau terluka. Anak dengan keterikatan aman cenderung mencari orang tua saat membutuhkan ketenangan atau bantuan. Mintz menjelaskan, mereka percaya orang tua dapat memberikan dukungan ketika menghadapi situasi tidak nyaman.
“Seorang anak yang memiliki keterikatan yang aman mungkin akan mencari orang tuanya ketika mereka sedang kesal atau terluka. Mereka yakin akan dapat ditenangkan dengan dukungan sosial orang tuanya,” tutur Mintz.
Karena itu, ketika anak meminta pelukan, mencari bantuan, atau sekadar ingin berada di dekat orang tua saat menghadapi masalah, perilaku tersebut dapat menjadi tanda bahwa ia merasa aman dalam hubungan tersebut.
