11.9 C
Munich

Operasi Robot: Sebenarnya Siapa yang Mengendalikan?

Harus dibaca

Istilah bedah robotik masih kerap disalahpahami sebagai operasi yang dilakukan secara otomatis oleh mesin. Padahal, dalam prosedur tersebut dokter tetap memegang kendali penuh atas keputusan medis dan setiap gerakan instrumen yang berada di dalam tubuh pasien.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Bunda Jakarta, Sita Ayu Arumi, menjelaskan robot hanya menerjemahkan gerakan dokter dari konsol ke instrumen bedah. Robot tidak menentukan tindakan, memilih jaringan yang diangkat, maupun menetapkan batas operasi.

“Robot ini alat bantu, bukan pengambil keputusan. Semua gerakan di dalam tubuh pasien itu dokter yang kendalikan, dari awal sampai akhir tindakan,” kata Sita dalam keterangannya.

Dokter mengendalikan instrumen dari konsol

Dalam operasi konvensional, dokter biasanya bekerja langsung di sisi meja operasi. Pada bedah robotik, dokter duduk di depan konsol dan mengendalikan instrumen menggunakan tangan serta jari. Sistem kemudian meneruskan gerakan tersebut ke dalam tubuh pasien.

Perangkat itu juga memiliki teknologi tremor filter untuk menyaring getaran kecil pada tangan dokter. Fitur tersebut membantu menghasilkan gerakan yang lebih stabil dan presisi. Namun, teknologi itu tidak mengubah sumber kendali operasi.

“Kalau tangan saya diam, instrumennya juga diam. Robot ini membantu saya bergerak lebih presisi dari tangan ‘telanjang’, tetapi soal jaringan mana yang diangkat dan sejauh mana batasnya, itu murni keputusan dokter,” ujar Sita.

Sita merupakan dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia pada 2013. Ketika itu, teknologi bedah robotik baru sekitar satu tahun diperkenalkan di RSU Bunda Jakarta.

Menangani kasus ginekologi kompleks

Menurut Sita, bedah robotik dapat digunakan pada sejumlah kasus ginekologi kompleks bagi pasien yang memenuhi indikasi. Timnya telah menangani mioma multipel berukuran besar, kista dengan perlengketan luas, serta endometriosis berat yang melibatkan beberapa organ di sekitar rahim.

Pendekatan minimal invasif tersebut memungkinkan tindakan dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil dibandingkan operasi terbuka. Pada pasien tertentu, metode itu juga dapat memberikan masa pemulihan yang relatif lebih singkat. Meski begitu, Sita menegaskan bahwa metode operasi harus dipilih berdasarkan kondisi pasien dan pertimbangan dokter, sehingga tidak semua pasien dapat menjalani prosedur yang sama.

Dalam kasus mioma, teknologi robotik pada pasien yang memenuhi indikasi juga dapat membantu dokter mengangkat miom sambil mempertahankan rahim. Pilihan ini dinilai penting bagi pasien yang masih berada dalam usia reproduktif.

Pelatihan dan pengalaman tetap menentukan

Direktur Utama PT Bundamedik, Agus Heru Darjono, mengatakan dokter yang menangani bedah robotik di jaringan rumah sakit BMHS menjalani pelatihan dan sertifikasi khusus. Untuk kasus kompleks, penanganan dilakukan dengan melibatkan tim multidisiplin.

Sita menambahkan, kompetensi dalam bedah robotik tidak terbentuk dalam waktu singkat. “Kompetensi menangani kasus robotik tidak instan. Butuh waktu bertahun-tahun sampai saya benar-benar nyaman menghadapi kasus kompleks, dan itu masih terus berkembang,” katanya.

Karena itu, pasien diingatkan agar tidak hanya mempertimbangkan kecanggihan alat ketika memilih prosedur bedah robotik. “Teknologinya bisa saja sama, tetapi pengalaman dokter dan kesiapan tim tetap punya peran sangat penting dalam tindakan,” ujar Sita.

Source link

Berita Terbaru