Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak membeli, menyimpan, atau mengonsumsi Oseltamivir tanpa indikasi medis di tengah meningkatnya perhatian terhadap influenza A. Penggunaan antivirus secara sembarangan dinilai tidak hanya berisiko menimbulkan efek samping, tetapi juga dapat memicu munculnya virus yang kurang sensitif terhadap obat.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia mengatakan kekhawatiran publik meningkat setelah informasi mengenai kasus influenza menyebar cepat melalui media sosial. Perbedaan ketersediaan Oseltamivir di sejumlah wilayah dan rumah sakit turut memperbesar kecemasan masyarakat.
“Kami memahami bahwa kekhawatiran masyarakat dalam beberapa hari terakhir ini terkait dengan meningkatnya perhatian terhadap influenza A dan sulitnya memperoleh obat antivirus Oseltamivir di sejumlah rumah sakit atau tempat,” kata Lucia dalam konferensi pers daring Kemenkes, Senin (28/9).
Penggunaan harus berdasarkan kondisi pasien
Lucia meminta masyarakat tidak menggunakan obat milik orang lain, menggandakan dosis, atau mengubah aturan pemakaian tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Menurut dia, pemakaian Oseltamivir yang tidak sesuai indikasi medis dalam jangka panjang dapat menyebabkan virus influenza menjadi kurang sensitif atau resisten terhadap antivirus.
Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas, dr. Pompini Agustia Sitompul, menjelaskan bahwa Oseltamivir terutama diberikan kepada pasien influenza dengan kondisi berat atau mereka yang berisiko mengalami komplikasi. Gejala berat, antara lain, ditandai batuk dan sesak napas yang memerlukan suplementasi atau bantuan oksigen.
“Maka pada kasus-kasus berat itulah baru bisa diberikan oseltamivir,” ujar Pompini. Ia menambahkan, efektivitas obat tersebut pada pasien dengan influenza ringan tergolong kecil. Sebagian pasien dengan gejala ringan dapat pulih sendiri, sehingga masyarakat diminta tidak panik.
Ahli farmakologi dr. Dewi Selvina Rosdiana menyampaikan bahwa meta-analisis sejumlah penelitian menunjukkan Oseltamivir dapat memperpendek durasi sakit, terutama bila diberikan kurang dari 24 jam setelah gejala muncul. Namun, pada anak dengan influenza tanpa komplikasi yang menjalani rawat jalan, pengurangan durasi sakit rata-rata hanya sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari.
Dewi juga mengingatkan adanya efek samping. Dalam penelitian yang dibahasnya, anak yang menerima Oseltamivir memiliki risiko muntah lebih tinggi dibandingkan kelompok yang mendapat plasebo. Karena itu, pemakaian antivirus perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan keputusan dokter.
Distribusi stok terus dipantau
Dewi mengatakan rekomendasi lembaga kesehatan di Amerika Serikat, CDC, memprioritaskan antivirus untuk pasien influenza yang memerlukan rawat inap, mengalami kondisi berat atau komplikasi, maupun memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi.
Sementara itu, Kemenkes menyatakan distribusi Oseltamivir telah dilakukan ke sekitar 190 rumah sakit dan akan dilanjutkan berdasarkan kebutuhan yang dilaporkan. Pemerintah juga mempercepat distribusi serta importasi obat tersebut sesuai kebutuhan rumah sakit dan pasien.
Lucia mengatakan perencanaan pengadaan dilakukan dengan menggunakan data surveillance serta melalui koordinasi dengan rumah sakit pemerintah dan swasta. Pasokan diperoleh dari produksi dalam negeri dan importasi melalui jalur khusus untuk mengatasi keterlambatan produksi domestik yang belum memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia kembali meminta masyarakat tidak membeli Oseltamivir dalam jumlah berlebihan.
