Kebiasaan menganggap mudah lupa, perubahan orientasi, atau tanda-tanda pikun sebagai hal biasa pada usia lanjut perlu diubah. Dokter spesialis kedokteran olahraga dr. A. Andi Kurniawan mengingatkan, perubahan fungsi kognitif tidak selalu merupakan bagian normal dari proses menua dan perlu mendapat perhatian.
“Ketika kita melihat bapak-ibu kita mungkin lupa, mungkin (kita) sedikit bias orientasi, kalau kelihatan seperti pikun kita menganggap maklum. Oh, maklum, sudah tua,” kata Andi dalam acara Bergerak Melawan Demensia yang diselenggarakan Alzheimer’s Indonesia (ALZI) Jakarta, Rabu (30/9).
Menurut Andi, demensia menjadi persoalan kesehatan yang perlu diantisipasi seiring bertambahnya populasi lanjut usia. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjaga kebiasaan beraktivitas fisik.
Aktivitas fisik dan risiko demensia
Andi menyebut sekitar 40 persen kasus Alzheimer atau demensia dapat dicegah. Ia mengatakan kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
“Mereka yang rajin melakukan aktivitas fisik ternyata bisa menurunkan risiko demensia atau Alzheimer itu sampai 45 persen,” ujar Andi. Ia menilai aktivitas fisik perlu dipandang sebagai investasi untuk menjaga kesehatan otak pada masa mendatang.
Ia menjelaskan, olahraga dapat merangsang produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel saraf. Andi mengibaratkan BDNF sebagai “pupuk otak” yang membantu menjaga otak tetap berkembang.
Aktivitas fisik juga meningkatkan aliran darah ke otak sehingga pasokan oksigen tetap terjaga. Selain itu, bergerak membantu mencegah diabetes, hipertensi, dan sejumlah kondisi lain yang disebut sebagai faktor risiko demensia atau Alzheimer.
Menurut Andi, manfaat aktivitas fisik bagi otak juga berkaitan dengan neurogenesis, proses pembersihan amyloid beta, pengurangan peradangan, serta pemeliharaan kesehatan pembuluh darah. Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk mulai bergerak sedini mungkin.
Durasi latihan perlu disesuaikan
Bagi lansia yang masih sehat, Andi merekomendasikan aktivitas fisik selama 150 menit per minggu. Durasi tersebut dapat dibagi secara fleksibel, dengan pilihan latihan berupa aktivitas aerobik dan penguatan otot.
Latihan aerobik dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang. Sementara itu, bagi orang yang sudah mengalami mild cognitive impairment (MCI), aktivitas fisik dapat dilakukan tiga hingga empat kali per minggu. Andi menyebut durasinya dapat lebih dari 60 menit karena latihan yang lebih panjang dapat merangsang BDNF.
Untuk lansia dengan Alzheimer, latihan perlu diarahkan untuk mempertahankan kemandirian. Aktivitas yang kompleks dapat disederhanakan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Keamanan juga harus menjadi perhatian keluarga atau caregiver. Sebelum berolahraga, lansia perlu dipastikan sudah makan, mengenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, serta menggunakan kursi atau alat bantu yang kokoh bila diperlukan. Area latihan harus bebas dari benda yang berisiko menyebabkan tersandung atau jatuh.
Andi mengingatkan aktivitas harus dihentikan apabila lansia mengalami tanda bahaya, seperti nyeri dada atau sesak napas. Keluarga juga perlu memantau perubahan kondisi lansia selama berolahraga.
