Rumah di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat, tidak hanya menjadi kediaman Jenderal Besar Abdul Haris (A.H.) Nasution. Bangunan itu juga menjadi lokasi salah satu episode paling kelam dalam sejarah Indonesia pada rangkaian peristiwa 30 September 1965 atau G30S.
Di rumah tersebut, upaya penculikan terhadap Nasution berlangsung pada 1 Oktober 1965 dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB. Sekelompok pasukan bersenjata merangsek ke area kediaman untuk membawa pergi sang jenderal.
Nasution lolos, putrinya dan ajudan menjadi korban
Nasution bersama istrinya, Johanna Sunarti, berusaha menyelamatkan diri setelah mengetahui adanya ancaman. Nasution berhasil keluar dengan melompati pagar menuju kompleks Kedutaan Besar Irak yang berada di sebelah rumahnya. Dalam pelarian itu, ia mengalami cedera pada kaki.
Nasution memang selamat dari upaya penculikan tersebut. Namun, serangan itu menelan korban dari keluarganya. Putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution, yang saat itu berusia lima tahun, terkena tembakan. Ia sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit sebelum meninggal dunia.
Korban lainnya adalah ajudan Nasution, Lettu Czi Pierre A. Tendean. Ia ditangkap pasukan penculik setelah mengaku sebagai Nasution untuk melindungi atasannya. Pierre Tendean kemudian dibawa secara paksa dan gugur dalam rangkaian tragedi tersebut.
Nasution menempati rumah itu sejak 1949, ketika menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Ia terus tinggal di sana hingga akhir hayatnya pada 6 September 2000.
Dari kediaman menjadi museum sejarah
Untuk mengenang jasa Nasution, rumah tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi museum. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Museum Sasmitaloka Jenderal Besar A.H. Nasution pada 3 Desember 2008.
Menurut catatan Dinas Sejarah TNI AD, museum ini menyimpan sekitar 2.185 item koleksi. Nama “Sasmitaloka” berarti tempat untuk mengingat atau mengenang peristiwa penting, jasa, atau sejarah.
Koleksi yang dapat dilihat pengunjung antara lain seragam dinas militer, mobil sedan merek Volvo, lukisan potret Ade Irma Suryani, serta diorama yang menggambarkan detik-detik penyerangan di kediaman Nasution. Penyajian tersebut membuat rumah itu tidak hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga ruang untuk mengenang peristiwa dan tokoh yang terkait dengannya.
Masyarakat dapat mengunjungi Museum Sasmitaloka A.H. Nasution secara gratis. Museum buka Selasa hingga Minggu, sedangkan Senin dan hari libur nasional museum tutup. Jam operasionalnya berlangsung pukul 08.00 hingga 14.00 WIB.
