Musim Pendakian Gunung Everest 2026 Resmi Dibuka
Jakarta, CNN Indonesia — Meski diwarnai oleh ancaman maut dan risiko tinggi, musim pendakian Gunung Everest tahun 2026 secara resmi telah dibuka. Ratusan pendaki dari berbagai negara bersama pemandu lokal (Sherpa) telah berkumpul di Base Camp siap menaklukkan puncak tertinggi dunia ini.
Situasi yang Membuat Deg-degan di Musim Pendakian Everest
Proses pembukaan jalur pendakian sempat tertunda selama dua minggu karena adanya serac, bongkahan es raksasa di Khumbu Icefall. Jalur baru yang digali tim “Icefall Doctors” harus melewati bongkahan es yang penuh retakan tersebut. Peringatan ketat pun dikeluarkan oleh Lembaga komite lingkungan Nepal (SPCC) terkait kondisi jalur dan cuaca ekstrem yang dapat mengancam keselamatan pendaki.
Khumbu Icefall dikenal sebagai daerah paling berbahaya dalam pendakian Everest karena gletser yang aktif dan bongkahan es besar yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan longsor salju. Pendaki legendaris, Lukas Furtenbach, mengungkapkan kekhawatiran akan jalur tahun ini yang dinilai lebih kompleks dan terbuka dibandingkan tahun sebelumnya.
Strategi Ketat untuk Meminimalisir Risiko
Meskipun biaya pendakian meningkat, minat terhadap Gunung Everest tetap tinggi. Beberapa strategi ketat diterapkan untuk meminimalisir risiko, seperti menurunkan berat logistik agar pendaki dapat bergerak lebih cepat serta melintasi daerah berbahaya hanya pada pagi hari ketika es masih membeku kencang.
Selain itu, pendaki juga diharapkan mengikuti penilaian risiko dari Sherpa paling berpengalaman. Pergeseran demografi pendaki pun terjadi, dengan penurunan jumlah pendaki dari AS dan Eropa, namun lonjakan dari negara-negara Asia terutama setelah jalur utara yang dikelola China ditutup untuk sementara waktu.
Demikianlah gambaran singkat mengenai musim pendakian Gunung Everest tahun 2026 yang dibuka dengan tantangan dan risiko tinggi namun tetap mendapatkan perhatian besar dari para pendaki daring untuk meraih prestasi mendaki puncak tertinggi dunia.
