Suara latar seperti kipas angin, hujan, atau gemuruh air kerap digunakan untuk membantu seseorang tidur. Namun, suara-suara tersebut sebenarnya memiliki karakter berbeda yang dikenal sebagai white noise, pink noise, brown noise, hingga green noise. Perbedaan komposisi frekuensinya membuat setiap jenis noise terdengar dengan cara yang tidak sama dan bisa memberi pengalaman berbeda saat beristirahat.
Mengenal berbagai warna noise
White noise merupakan jenis yang paling populer. Menurut WebMD, suara ini memadukan seluruh frekuensi yang dapat didengar manusia dalam porsi seimbang. Hasilnya menyerupai bunyi statis, kipas angin, pendingin ruangan, atau vacuum cleaner. Banyak orang menggunakannya untuk menutupi suara-suara yang mengganggu dari lingkungan sekitar ketika hendak tidur.
Berbeda dari white noise, pink noise memiliki karakter yang lebih lembut, natural, dan rendah. Suaranya dapat mengingatkan pada hujan ringan, hembusan angin di antara pepohonan, atau ombak di pantai. Jenis ini kerap dianggap membantu relaksasi serta mempertahankan tidur yang lebih dalam. Pink noise juga dapat menjadi pilihan bagi orang yang mudah terbangun oleh suara keras, seperti pintu tertutup atau klakson kendaraan.
Brown noise, yang juga disebut red noise, menghasilkan suara lebih berat dan bergemuruh. Karakternya lebih dalam daripada white noise maupun pink noise, serupa hujan deras yang stabil atau aliran air bertekanan kuat. Penelitian awal menunjukkan suara ini mungkin membantu sebagian orang yang mengalami tinnitus atau denging di telinga. Sejumlah temuan juga mengaitkannya dengan dukungan terhadap konsentrasi dan proses berpikir, meski bukti ilmiah mengenai manfaatnya untuk tidur masih perlu diperkuat.
Green noise belakangan populer di media sosial karena menghadirkan nuansa suara alam yang dianggap menenangkan. Banyak orang meyakini suara ini dapat membantu mengurangi kecemasan, meningkatkan relaksasi, dan mendukung kualitas tidur. Akan tetapi, penelitian ilmiah mengenai green noise masih sangat terbatas.
Selain empat jenis tersebut, terdapat blue noise, violet noise, dan grey noise. Blue noise terdengar lebih tajam dan mendesis karena memiliki energi lebih besar pada frekuensi tinggi. Violet atau purple noise berada pada frekuensi yang lebih tinggi lagi dan sering dikaitkan dengan terapi tinnitus. Sementara itu, grey noise terdengar mirip white noise, tetapi memiliki keseimbangan berbeda pada frekuensi tertentu.
Tidak ada suara yang cocok untuk semua orang
White noise, pink noise, dan brown noise paling sering dipilih untuk membantu tidur. White noise sesuai bagi mereka yang ingin menyamarkan kebisingan dari luar. Pink noise cenderung dipilih karena terdengar lebih halus, sedangkan brown noise cocok bagi orang yang menyukai suara rendah dan dalam.
Audiolog klinis Amy Sarow mengatakan, “White, pink, dan brown noise mengandung jumlah energi yang berbeda di semua frekuensi [dan] berfungsi dengan cara unik untuk memengaruhi kondisi mental kita.” Pernyataan itu, seperti dikutip Good Housekeeping, menegaskan bahwa respons setiap orang terhadap noise dapat berbeda.
Karena itu, tidak ada satu jenis suara yang otomatis paling efektif bagi semua orang. Seseorang dapat mencoba beberapa warna noise secara bergantian untuk menemukan suara yang paling nyaman. Ahli audiologi berbasis di New York, Ruth Reisman-Aguilar, menyarankan agar pilihan tersebut dipadukan dengan kebiasaan tidur sehat.
“Kami biasanya menyarankan pasien untuk mencoba beberapa suara dan menemukan mana yang mereka sukai, lalu menggabungkan suara tersebut dengan teknik relaksasi, latihan pernapasan, terapi tidur, dan mindfulness,” kata Reisman-Aguilar.
