Festival Bhumi Atsanti (FBA) V kembali digelar di Bhumi Atsanti, Dusun Bhumi Segoro, Desa Borobudur, Magelang, pada 21–23 Agustus 2026. Mengangkat tema “Rahayuning Jagad”, festival kelima ini membawa pesan tentang kepedulian, menjaga kebaikan, dan ajakan untuk terus berbuat baik di tengah dinamika kehidupan.
Rangkaian hari pertama, Jumat (21/8/2026), dibuka dengan Pasar Bhumi dan seremoni pembukaan Festival Bhumi Atsanti V. Pasar Bhumi mulai berlangsung pukul 15.00 WIB dengan menghadirkan sejumlah pelaku UMKM dari kawasan Borobudur dan sekitarnya. Selain berbelanja dan menikmati kuliner, pengunjung dapat mengikuti Lomba Melukis Gerabah serta menyaksikan ArtLab Musyawarah Bunyi.
Pasar Bhumi Hadirkan Dolanan Tradisional
Pasar Bhumi tidak hanya menawarkan stan usaha lokal. Penyelenggara juga menyediakan area permainan tradisional, seperti gasing dan ketapel. Kehadiran permainan tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung dari berbagai kelompok usia.
Salah satu pengunjung menilai konsep itu memberi pengalaman berbeda karena menghadirkan kembali permainan masa kecil. “Selain bisa melihat-lihat dan jajan di berbagai tenant, Pasar Bhumi kali ini juga unik karena menghadirkan dolanan tradisional, sehingga saya dapat ikut bernostalgia mengenang masa kecil,” ujarnya.
Antusiasme pengunjung terlihat sejak pembukaan pasar hingga rangkaian acara seni dimulai. Ruang yang memadukan aktivitas UMKM, permainan tradisional, dan pertunjukan tersebut membuat pengunjung dapat menikmati festival dalam suasana yang lebih beragam.
Doa Pembukaan dan Pentas Seni
Pembukaan FBA V berlangsung secara khidmat. Para panitia membentuk formasi sambil membawa lilin, ditemani alunan musik dari Kerontjong Rindu, kelompok penampil asal Yogyakarta. Art Director Festival Bhumi Atsanti V, Putri Maharani, mengatakan seremoni tersebut menjadi bentuk doa sekaligus upaya menghimpun energi positif untuk kelancaran acara.
“Harapannya, dengan pembukaan yang khidmat. Energi positif dapat tersalurkan agar acara dapat berlangsung dengan baik tanpa halangan apapun. Saya yakin, bahwa energi seluruh panitia, penampil, hingga pengunjung adalah energi positif yang dapat disatukan untuk keberlangsungan acara,” kata Putri.
Usai seremoni, Kerontjong Rindu kembali tampil dengan lagu-lagu keroncong bernuansa kebudayaan lokal. Panggung kemudian diisi Sanggar Setyo Manunggal dari Magelang melalui pertunjukan tari, disusul Huis Van Roedi Lanbatih dari Batu, Jawa Timur, yang membawakan pertunjukan wayang dengan kemasan cerita yang menarik.
Penampilan berikutnya datang dari Sanggar Sangha Chandrawara asal Candirejo, Magelang, yang menyajikan tari kuda lumping. Musik kemudian berlanjut melalui penampilan Kebun Kecil dari Yogyakarta dengan lagu-lagu ciptaan mereka.
Orkes Soesah Tidoer, juga dari Yogyakarta, menjadi penampil penutup hari pertama. Membawakan repertoar keroncong hingga dangdut, kelompok tersebut menghidupkan suasana malam hingga acara berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Hari pertama FBA V ditutup dengan antusiasme pengunjung yang menyaksikan pertunjukan seni dan menikmati Pasar Bhumi.
