Kesulitan anak untuk duduk tenang atau mempertahankan perhatian saat belajar tidak selalu berkaitan dengan kemalasan atau keengganan mendengarkan. Pola hidup sehari-hari, mulai dari waktu tidur, kebiasaan menggunakan gawai, asupan pagi, hingga suasana di sekitar tempat belajar, dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi.
Karena itu, orang tua perlu melihat kebiasaan yang menyertai perilaku tersebut. Beberapa rutinitas berikut dapat membuat fokus anak lebih mudah terganggu.
Istirahat dan penggunaan gawai
Kurang tidur menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perhatian. Ketika aktivitas anak padat, waktu tidur sering kali berkurang. Padahal, studi yang dipublikasikan dalam Sleep Medicine Reviews mengaitkan kehilangan waktu tidur pada anak dan remaja dengan penurunan sejumlah fungsi kognitif, termasuk perhatian dan fungsi eksekutif.
Dampaknya bukan hanya rasa mengantuk pada pagi hari. Anak yang tidur terlalu sedikit juga dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi dan mengikuti kegiatan yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama.
Waktu penggunaan gawai juga perlu diperhatikan, terutama menjelang tidur. Perangkat dengan layar yang digunakan pada waktu tersebut berkaitan dengan durasi tidur yang tidak mencukupi, kualitas tidur yang lebih buruk, serta rasa kantuk pada siang hari. Kondisi itu dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada hari berikutnya.
Selain waktu penggunaannya, durasi screen time secara keseluruhan juga patut diperhatikan. Studi yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics menemukan bahwa durasi penggunaan layar yang lebih tinggi pada usia 24 dan 36 bulan berkaitan dengan hasil perkembangan yang lebih rendah pada usia berikutnya.
Temuan tersebut tidak berarti semua anak yang banyak menggunakan layar pasti mengalami masalah konsentrasi. Pengaruhnya dapat dipengaruhi banyak hal, termasuk aktivitas yang tergantikan oleh layar. Waktu di depan perangkat yang terlalu panjang dapat mengurangi kesempatan anak untuk tidur, bergerak, bermain, atau berinteraksi langsung dengan orang lain.
Gerak tubuh, sarapan, dan lingkungan belajar
Belajar memang membutuhkan waktu duduk, tetapi anak tetap memerlukan aktivitas fisik. Penelitian yang sama menunjukkan adanya hubungan positif antara aktivitas fisik dan kebugaran dengan sejumlah aspek fungsi kognitif serta prestasi akademik.
Aktivitas tersebut tidak harus berupa olahraga terstruktur. Bermain di luar rumah, berlari, bersepeda, atau kegiatan lain yang membuat anak aktif bergerak dapat menjadi bagian dari rutinitas. Anak yang menghabiskan sebagian besar harinya dengan duduk dan jarang bergerak kehilangan kesempatan memperoleh manfaat aktivitas fisik bagi fungsi kognitif.
Kebiasaan melewatkan sarapan juga sebaiknya tidak terus-menerus terjadi. Penelitian dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience mempelajari kaitan sarapan dengan fungsi kognitif, perilaku, dan performa akademik anak serta remaja. Hasilnya menunjukkan sarapan dapat memberi manfaat pada aspek tertentu dari fungsi kognitif dan perilaku, meski pengaruhnya tidak sama pada setiap anak dan dapat dipengaruhi jenis makanan serta usia.
Melewatkan satu kali sarapan tidak otomatis membuat anak kehilangan fokus. Namun, kebiasaan itu sebaiknya tidak menjadi rutinitas, terutama apabila menyebabkan kebutuhan makan anak secara keseluruhan tidak terpenuhi.
Lingkungan belajar yang penuh distraksi juga dapat memecah perhatian. Televisi yang tetap menyala, mainan yang berserakan, notifikasi gawai, atau aplikasi lain yang mudah diakses membuat anak berhadapan dengan banyak stimulus sekaligus. Paparan televisi di latar belakang, misalnya, dapat mengganggu kualitas dan pola bermain anak. Prinsip serupa berlaku saat anak belajar.
Jika kesulitan fokus terus berlangsung, penyebabnya tidak selalu berasal dari kebiasaan harian. Stres, kecemasan, masalah tidur, gangguan penglihatan atau pendengaran, hingga ADHD juga dapat berperan. Karena itu, perilaku tersebut tidak semestinya langsung dianggap sebagai tanda anak malas, tidak disiplin, atau sengaja tidak mau mendengarkan.
